Badan Amal Inggris Soroti Maraknya Hoaks Soal Virus Corona

Badan Amal Inggris Soroti Maraknya Hoaks Soal Virus Corona
Ilustrasi/Antara Foto

INILAH, London- Perusahaan media dan internet harus berbuat lebih banyak untuk mengatasi penyebaran berita palsu di Inggris, demikian laporan Full Fact pada Kamis (30/4/2020), menyoroti kebohongan yang telah beredar selama wabah virus corona tahun ini.

Virus corona telah membuka barisan baru dalam pertempuran melawan berita palsu, dengan klaim palsu dan teori konspirasi yang mungkin memiliki efek negatif terhadap kesehatan masyarakat.

"Berita buruk merusak kehidupan. Kami melihat secara langsung bagaimana hal itu dapat menghalangi orang untuk terlibat dalam demokrasi, dan membahayakan kesehatan, keuangan atau keselamatan mereka sendiri. Wabah virus corona menjadikan ini sebagai fokus utama dalam beberapa bulan belakangan," kata Kepala Eksekutif Will Moy.

"Di sini di Inggris, kami telah melihat berita palsu dalam bentuk penyembuhan palsu, klaim palsu, teori konspirasi dan penipuan keuangan".

Full Fact menegaskan kembali seruan untuk reformasi undang-undang pemilihan untuk membantu melindungi suara masa depan. Pihaknya juga telah menyoroti taktik kampanye menyesatkan dalam pemilu Desember lalu.

Tetapi penekanan tugasnya dengan cepat bergeser ke kesehatan saat COVID-19 telah menyebar ke seluruh dunia.

Full Fact mengatakan kebohongan soal risiko vaksin dan teori konspirasi yang menghubungkan virus corona dengan jaringan telekomunikasi 5G merupakan dua jenis berita palsu.

Awal April ini Inggris mengatakan bahwa teori konspirasi yang mengaitkan tautan 5G dengan penyebaran virus corona adalah berita palsu yang berbahaya dan benar-benar palsu setelah menara di sejumlah bagian negara dibakar.

Full Fact menambahkan bahwa formulir daring yang diluncurkan agar memungkinkan pengguna mengirimkan pertanyaan seputar epidemi COVID-19 telah melihat lebih dari 2.000 tanggapan hanya dalam waktu tiga pekan.

Perusahaan teknologi telah bertindak membatasi berita palsu terkait dengan virus tersebut. Sebelumnya pada April WhatsApp milik Facebook memperketat batas penerusan pesan dalam upaya mencegah pesan, yang menggembar-gemborkan imbauan medis palsu.

Dalam laporan tahunan yang baru, Full Fact mengatakan bahwa perusahaan internet harus menerapkan prinsip-prinsip keterbukaan untuk merinci berapa banyak konten pada platform mereka ditandai sebagai berita palsu atau menyesatkan, dan tindakan apa yang diambil terhadap unggahan tersebut.