Problem Besar Bandung, Sampah Plastik 250 Ton per Hari

Problem Besar Bandung, Sampah Plastik 250 Ton per Hari
Sampah plastik di Kota Bandung mencapai 250 ton per hari
INILAH, Bandung - Program Kurangi Pisahkan dan Manfaatkan (Kang Pisman) terus digalakan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung. Tujuannya, memilah jenis sampah serta berupaya menuntaskannya di hulu. 
 
Salah satu produksi jenis sampah cukup besar yakni dari sampah plastik, yang keberadaannya juga kerap menjadi pemicu banjir setelah menyumbat aliran sungai.
 
Dari data yang dikemukakan PD. Kebersihan, sedikitnya produksi sampah di Kota Bandung mencapai 1.500 ton perhari. Sebagian besarnya merupakan sampah rumah tangga, dan 16,7 persen diantaranya merupakan sampah plastik, atau tak kurang dari 250 ton.
 
"Sampah kota itu kalau asumsi di 1.500-1.700, kalau yang diangkut ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sekitar 1.200 ton, sisanya kan ada yang didaur ulang dan ada yang diolah. Itu persentase dari sampah pemukiman warga, itu dari komposisi hasil riset ‎Prof. Enri Damanhuri dari ITB pada 2016 lalu," ucap Gun Gun‎ Saptari Hidayat, Direktur Umum PD. Kebersihan Kota Bandung, belum lama ini.
 
Dari hasil penelitian tersebut, Gun Gun membeberkan terdapat lima jenis sampah plastik. Rinciannya yakni ‎botol sebanyak 0,94 persen, gelas 1,30 persen, bungkus 6,95 persen, wadah1,95 dan kantong plastik sebesar 5,56‎ persen.
 
"Itu yang dari rumah tinggal, ini sampah dari warga aja bukan dari perniagaan karena belum ada risetnya yang komersil mah," cetusnya.
 
Gun Gun mengulas bahwa komitmen Pemkot Bandung dengan menggaet Aprindo untuk mengurangi kantong plastik merupakan tindak lanjut atas Peraturan Daerah (Perda) Kota Bandung Nomor 17 Tahun 2012 tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik. 
 
Hanya saja, dalam Perda tersebut memang masih bersifat imbauan, sehingga dampaknya sulit terkur karena belum bisa berpengaruh secara signifikan.
 
"Sebetulnya itu perda lama dan belum mengikat ke sanksi, baru ke perda pengurangan kantong plastik belum sampai ke larangan. Kalau larangan hasilnya memang bisa signifikan," ujarnya.
 
Selain komitmen dan konsistensi, Gun Gun memaparkan bahwa untuk bisa memberikan dampak pengurangan sampah plastik diperlukan waktu sangat lama. Karena, harus mengubah pola pikir dan kebiasaan masyarakat dalam menggunakan plastik.
 
Gun Gun menyatakan baru di 2018 ini Pemkot Bandung serius untuk mengkampanyekan pengurangan sampah, termasuk didalamnya soal pemilahan sampah anorganik atau plastik. Yakn‎i diantaranya melalui gerakan Kurangi, Pisahkan dan Manfaatkan (Kang Pisman) guna membangun kesadaran untuk melakukan pemilahan sampah.
 
"Memang makanya pendekatan dua, lewat aturan dan lewat aedukasi, dan kita edukasi sedang jalan Kang Pisman, dan butuh waktu. Upaya kita tiga, edukasi, perbaikan sistem, dan ketiga penegakan aturan. Tahapan sekarang belum sampai ke sistem tapi baru ke awarenes, kan tahapan merubah perilaku ada knowing dulu kemudian aware‎," bebernya.
 
Sebagai modal awalnya, Gun Gun mengungkapkan sudah sejak lama Kota Bandung membangun kesadaran lewat pengembangan Kawasan Bebas Sampah (KBS). Kampanye tersebut, menurutnya sekarang ini tengah digalakan sebagai misi Pemkot Bandung dengan menyasar kewilayahan.
 
"Kelurahan ada sekitar 8 kelurahan merespon positif bikin sistem kelurahan, karena awalnya KBS skala RW, tapi bertahap baru mulai. Mungkin baru bisa diukur akhir tahun depan," katanya.