Jeritan Korban Banjir Membutuhkan Makanan Siap Saji untuk Buka Puasa dan Sahur

Jeritan Korban Banjir Membutuhkan Makanan Siap Saji untuk Buka Puasa dan Sahur

INILAH, Bandung - Ratusan warga di beberapa daerah di Kecamatan Baleendah, Dayeuhkolot, dan Bojongsoang kembali harus merasakan menjalankan ibadah puasa dengan kondisi rumah mereka kebanjiran luapan air dari Sungai Citarum. 

Meski saat ini banjir mulai surut namun genangan air dan lumpur masih memenuhi pemukiman dan jalan, sehingga banyak warga yang memilih untuk bertahan di pengungsian.

"Sudah beberapa hari ini kami kembali kepengungsian. Kemarin banjir cukup besar sampai dua meter lebih, sekarang sudah surut tinggal lumpur dan genangan saja. Rumah kebanjiran saat ada musibah virus corona dan kami juga harus tinggal di pengungsian saat puasa," kata Riki salah seorang pengungsi di Gedung Inkanas Baleendah, Minggu (3/5/2020).

Hal yang berat dirasakan Rika selama berada dipengungsian saat bulan puasa, yakni sulitnya mememuhi kebutuhan makan minum untuk buka puasa dan sahur. Memang selama ini juga ada bantuan makan dari dapur umum yang didirikan BPBD. Namun tetap saja belum mencukupi kebutuhan mereka. Kalaupun ada bantuan beras, mie instan dan lainnya, mereka kesulitan karena tak ada peralatan untuk masak.

"Selain rumah kebanjiran, bencana virus corona juga membuat kami sulit bergerak atau tidak bebas untuk bekerja buat cari makanan. Nah kalaupun ada bantuan berupa bahan makanan kami kebingungan lagi enggak punya tempat masak," ujarnya.

Ketua Marsyarakat Relawan Indonesia (MRI) Kabupaten Bandung Atep Salman Alfaritsi menambahkan, saat ini kondisi banjir di beberapa kecamatan sudah mulai surut. Termasuk di tiga kecamatan yang bisa dikatakan sebagai daerah langganan banjir yakni Baleendah, Dayeuhkolot dan Bojongsoang mulai surut. Namun masih menyisakan lumpur dan genangan air dibeberapa titik. Sehingga, sebagian besar warga korban banjir ini masih bertahan dipengungsian.

"Sudah mulai surut tapi kalau yang di tiga kecamatan itu pemukiman dan jalan masih digenangi lumpur. Kalau yang di Banjaran kemarin beberapa desa kebanjiran sekarang sudah dibersihkan dan warga sudah kembali ke rumah masing masing," kata Atep.

Menurut Atep, saat ini sebagian warga yang rumahnya tak memiliki lantai dua, masih bertahan di pengungsian. Yakni di Gedung Inkanas Baleendah, Desa Dayeuhkolot dan di Bojongsoang. Rata rata rumah mereka masih digenangi lumpur. Kebutuhan mereka selain makanan siap saji, adalah bantuan peralatan untuk membersihkan rumah dan lingkungan mereka.

"Memang bantuan yang paling dibutuhkan saat ini makanan siap saji. Soalnya kalau bahan makanan mereka enggak ada peralatan masak. Selain itu mereka juga butuh peralatan untuk bersih bersih rumah karena lumpurnya banyak sekali," ujarnya.

Berdasarkan data yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung menyebutkan, sebanyak 9.285 rumah di Kabupaten Bandung terendam banjir akibat luapan Sungai Citarum.  Akibatnya, sebanyak 315 jiwa dari total warga terdampak sebanyak 15.639 Kepala Keluarga (KK) atau 56.251 jiwa itu harus mengungsi ke tempat yang aman. 

Kecamatam Dayeuhkolot menjadi wilayah paling parah terendam banjir. Sebanyak 5.688KK atau 19.696 jiwa warga tersebar di tiga desa yakni Desa Dayeuhkolot, Desa Citeureup dan Kelurahan Pasawahan terdampak banjir sejak Senin (30/3). Ketinggian air di tiga desa ini antara 10 sentimeter hingga 2 meter lebih. Di Dayeuhkolot ini, banjir merendam sebanyak 4.092 rumah, 8 tempat ibadah dan 2 sekolah, dengan rata-rata tinggi muka air sekitar 10-280 sentimeter. Akibatnya sebanyak  33 KK dengan 111 jiwa mengungsi harus mengungsi.

Banjir juga merendam 4.439 rumah warga, 26 sekolah dan 38 tempat ibadah di Kecamatan Baleendah. Banjir dengan ketinggian antara 20 hingga 290 sentimeter itu mengakibatkan 5.515 KK atau 20.518 jiwa terdampak. Sebagian dari warga telah berada di beberapa titik pengungsian, salah satunya di Gedung Inkanas Baleendah. (Dani R Nugraha)