Sikap Kami: Ganjar Tirulah Jabar

Sikap Kami: Ganjar Tirulah Jabar

AKHIR pekan lalu, kegaduhan muncul, terutama di kalangan aparatur sipil negara (ASN). Pemicunya Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah. Dia mengusulkan pemotongan gaji ASN untuk membantu penanggulangan wabah corona. Khusus golongan III ke atas. Kalau bisa 50 persen, katanya.

Tentu saja, usulan yang diajukan pada Musrenbang Nasional ini memicu kontroversi. Sangat banyak ASN yang tak menyetujuinya. Dalih mereka, selain sudah banyak potongan (utang), juga butuh biaya pendidikan anak-anaknya.

Kita memaklumi keresahan ASN. Tidak semua ASN berpenghasilan tinggi. Tidak semua pula yang ekonominya baik. Gali lubang tutup lubang sudah biasa dalam kehidupan ASN. Jadi, kita paham keberatannya.

Yang kita tidak paham adalah bagaimana usulan seperti itu kemudian muncul. Ganjar tentu berniat baik. Tapi, langkah yang dia usulkan, tak bisa dikatakan baik. Tidak menyenangkan semua orang.

Memangkas gaji ASN kita anggap sebagai usulan yang kelewatan. Bukan berarti kita tidak paham dan tidak berempati terhadap negara yang tengah dirundung wabah corona. Tapi, masih banyak cara lain untuk mendapatkan dana itu. Caranya? Menggugah, bukan memaksa.

Banyak lembaga sosial sudah melakukan itu. Mereka kumpulkan donasi dari siapa saja agar bisa membantu penanganan corona. Berhasil. Persoalan berapa donasi yang dikumpulkan, itu urusan kedua.

Kalaupun hendak mengumpulkan dana dari ASN, Pemprov Jawa Barat sudah menunjukkan caranya. Formatnya donasi. Dipotong dari gaji juga, tapi dengan kesukarelaan, termasuk nilainya. Dari ASN Pemprov Jabar bulan lalu terkumpul Rp4 miliar. Kalau dibelikan masker yang sekarang harganya sudah ada yang Rp3 ribu sepotong, sudah dapat 1,3 juta potong masker.

Kenapa mereka tidak ngedumel? Ya karena mereka ikhlas. Mereka tidak dipaksa. Mereka tidak ditekan. Mereka berdonasi untuk dua alasan: bisa ikut membantu dan insya Allah mendapat berkah dan pahala.

Lagi pula, ASN mengeluh terhadap usulan itu, antara lain juga karena belum mendapatkan teladan. Di tengah pandemi yang mengharu-biru negeri ini, masih sangat sedikit petinggi negeri, juga di daerah, yang rela menyumbangkan haknya untuk ikut membantu saudara-saudara yang terdampak. Lha, kalau pejabat tinggi saja tak memberi teladan, bagaimana hendak memaksakan pemotongan gaji ASN? (*)