Sikap Kami: Perjuangan Belum Selesai

Sikap Kami: Perjuangan Belum Selesai

TAK ada tempat bagi kita membusungkan dada dalam berperang lawan corona. Yang ada adalah membusungkan semangat dan kedisiplinan. Hanya itu senjata utama kita –setidaknya hingga saat ini—untuk memeranginya.

Apa yang terjadi hari ini di Jawa Barat adalah contohnya. Kemarin-kemarin, kita sudah cukup bangga. Terjadi penurunan pasien positif Covid-19 tambahan. Bahkan pernah sehari tak bertambah sama sekali. Tapi hari ini? Ada 193 kasus baru. Paling tinggi se-Indonesia!

Kita sudah sepakat, salah satu cara yang kita tempuh adalah pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Maka, jalan tersebut harus kita lalui, terutama dengan kedisiplinan yang tinggi. Tak usah macam-macam. Tak usah tolak-menolak PSBB, kecuali kita berani melakukan langkah yang lebih ekstrem daripada itu.

Kita paham, PSBB membuat situasi menjadi berat, terutama bagi masyarakat, terlebih lagi dengan ekonomi pas-pasan. Tapi, sejauh ini, itulah jalan yang kita lihat lebih pas untuk memutus mata rantai penyebaran virus penyebab Covid-19 ini. Yang perlu pemerintah lakukan adalah memberi perhatian yang lebih telaten terhadap saudara-saudara kita yang kehilangan kemampuan itu.

Dengan PSBB –ruang untuk mempertegas penjagaan jarak fisik dan sosial—saja kita belum sepenuhnya berhasil, apalagi kalau merasa tak memerlukannya lagi. Tak perlu kita merasa sombong, apalagi berpikir bahwa persoalan Covid-19 sudah selesai.

Malah, kita berpendapat, PSBB harus dijalankan dengan lebih ketat. Kita tak sepakat dengan sejumlah menteri yang menginginkan adanya pelenturan PSBB. Dengan aturan yang cukup tegas saja masyarakat kita masih jauh dari disiplin, apalagi kalau diberi kelonggaran-kelonggaran.

Hanya satu obat bagi negeri yang tingkat kedisiplinannya amburadul seperti kita: aturan yang tegas. Dari pejabat tinggi hingga masyarakat terendah, kedisiplinan kita payah. Padahal, itulah yang dibutuhkan. Itu –salah satu hal utama-- yang dilakukan Vietnam dan Korea Selatan untuk mengalahkan Covid-19 dan berhasil.

Hanya itu yang bisa kita lakukan. Kecuali, kalau kita punya kesiapan dan ketegaran untuk melihat dan mendengar, bahwa besok lusa kasus positif Covid-19 di Jawa Barat akan bertambah 200, 300, 1.000, atau di atas itu. Tentu, kita tak menginginkan itu.

Perjuangan kita belum selesai. Jadi, tak perlukah kita neko-neko. Mari kita lanjutkan perjuangan melawan corona. (*)