Sikap Kami: Lockdown (Harga) BBM

Sikap Kami: Lockdown (Harga) BBM

JANGAN bilang tak ada lockdown di Indonesia. Tentu, bukan lockdown wilayah, melainkan lockdown harga bahan bakar minyak (BBM). Di tengah jeritan publik, di tengah harga minyak mentah yang jatuh tapai, tampaknya tak ada niat untuk menurunkan harga BBM.

Rapat kerja Komisi VII DPR dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Manusia (ESDM) Arifin Tasrif, Senin (4/5) lalu menguatkan indikasi itu. Alih-alih menjawab pertanyaan DPR kenapa harga BBM belum juga turun, sang menteri bilang sudah dua kali turun sepanjang tahun ini.

Menteri tentu tidak salah. Jawabannya benar: sudah dua kali harga sejumlah BBM turun. Tapi, jawabannya tidak tepat. Penurunan dua kali itu terjadi karena harga pasar (sebelum wabah covid). Normal. Senormalnya pula jika harga BBM sekarang sudah turun kembali karena harga minyak mentah dunia turun dari US$60 menjadi US$20 perbarel.

Yang terjadi kemudian adalah silang pendapat. Yang muncul cara-cara ngeles. Cara cari-cari alasan. Kalau hanya sekadar mencari alasan, sejuta sebab bisa diketemukan dalam waktu singkat.

Alasan-alasan itu tak dibutuhkan masyarakat. Yang dibutuhkan masyarakat adalah harga BBM turun saat harga minyak mentah dunia anjlok sebagaimana harga BBM dinaikkan ketika harga minyak dunia naik. Logikanya sederhana. Logika itulah yang disasar Pertamina dan pemerintah saat menaikkan harga BBM.

Kecuali soal logika harga yang telah dibangun pemerintah, maka ada pula alasan sentimental: soal kepedulian. Di tengah wabah corona, di tengah rontoknya para pekerja, di tengah ekonomi yang kian berat, BBM yang jadi kebutuhan utama warga harganya tak turun-turun mengikuti harga dunia. Kasihan pemerintah dan Pertamina jika kemudian muncul pandangan masyarakat bahwa mereka menarik keuntungan besar dari selisih harga minyak memanfaatkan wabah corona.

Bahwa ada risiko-risiko usaha yang dihadapi Pertamina dalam situasi seperti ini, tentu itu menjadi tanggung jawab mereka. Lagi pula, usaha apa sih yang tidak terdampak oleh wabah ini? Pertamina yang semestinya mencari jalan keluar, bukan dengan menahan harga di tengah anjloknya harga minyak dunia.

Lucunya, Pertamina hanya mencoba menjawab dengan gimmick-gimmick memberikan cashback tertentu. Lebih lucu lagi, di tengah situasi seperti ini, tak ada lagi figur-figur yang pernah merasa jadi pahlawan rakyat di Pertamina. (*)