Waketum Gerindra Pertanyakan Banggar DPR RI Setujui BI Cetak Uang Rp600 Trilyun

Waketum Gerindra Pertanyakan Banggar DPR RI Setujui BI Cetak Uang Rp600 Trilyun

INILAH, Jakarta,- Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono pertanyakan sikap Badan Anggaran (Banggar) DPR RI yang menyetujui BI cetak uang  Rp600 Trilyun.

 

“Banggar DPR RI setujui BI cetak uang rupiah 600 Trilyun ini Ada apa ya.. Jangan jangan ini BLBI jilid kedua kali ya,” tegas Arief. .

 

Dia menegaskan, “Atau jangan jangan jualannya Bu Menkeu berupa global bond dalam denominasi mata uang asing kagak ada yang beli kali ya atau cuma sedikit yang beli. Jadi ya satu satu nya jalan ya cetak rupiah,”paparnya.  

 

Menurut Arief,  tak mengapa mencetak uang sebanyak itu. “Tapi kalau pengawasan dan pengendalian tidak bagus maka akan jadi kiamat ekonomi Indonesia,” tuturnya.  

 

Menurut Arief, kebijakan itu harus  diawasi dengan ketat.  Jangan sampai suntikan dana kepada sejumlah pengusaha dan bank-bank  yang mengaku usahanya hancur akibat dampak covid 19 malah disalah gunakan.

 

“Misalnya begitu dapet dana langsung ditukarkan dengan mata uang US dan SIN dollar dan di simpan keluar negeri dan habis itu ngaku bangkrut dan menyerahkan aset aset sampah ke pemerintah,”tuturnya. .

 

Menurut dia,   Modern Monetary Theory yang sangat ramai menjadi diskusi para ekonom dunia, salah satu anjuran theory itu adalah jika sisi pengeluaran negara deficit  maka cara nya ya cetak duit,dengan pemerintah menerbitkan Surat utang negara dan dibeli oleh Bank Indonesia

 

Namun ada banyak syarat agar pencetakan uang tidak menimbulkan inflasi. “Syarat nya ekonomi negara tersebut harus full employment, uang yang di cetak digunakan untuk belanja  fasilitas fasilitas kesehatan gratis bagi masyarakat , pendidikan gratis, pembangunan infrastruktur pangan untuk mengerakan pembukaan lahan sawah baru dan infrastruktur lainnya oleh pemerintah, tegasnya.

 

Menurut dia, jika mencetak uang hanya untuk menalangi para konglomerat dan perusahaannya serta  bank bank swasta yang memang performance keuangan sudah negative sebelum ada wabah covid 19 yang ada malah model krisis 98 dan mungkin lebih parah lagi.

 

“Jadi nyetak duit boleh saja enga jadi masalah tapi kalau ilmu silat enga bener yang ada rontok nih sistim moneter kita,”pungkasnya.