Pemerintah Dinilai Perlu Desain yang Membangun Kepercayaan Publik

Pemerintah Dinilai Perlu Desain yang Membangun Kepercayaan Publik
Antara Foto

INILAH, Jakarta- Anggota Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menyarankan agar pemerintah memiliki desain yang mampu membangun kepercayaan kepada pasar dan publik untuk bisa keluar dari krisis pandemi COVID-19.

"Saya ingin menyampaikan begini, ini desainnya seperti apa? Ini yang harus kita siapkan sejak awal. Desain tersebut harus keluar dari negara. Maka dari itu desain tersebut harus bisa membangun kepercayaan bagi siapa pun," ujar Misbakhun dalam diskusi daring di Jakarta, Rabu.

Dia mengatakan bahwa pemerintah tidak boleh memberikan sinyal yang tidak membangun kepercayaan kepada pasar dan rakyat.

Saat ini, lanjut dia, penentu utama untuk keluar dari krisis COVID-19 adalah seberapa besar anggaran yang dikeluarkan oleh pemerintah, dengan cara apa bisa keluar mengatasi pandemi COVID-19 ini, mengatasi yang terpapar bagaimana, kemudian sembuhnya dengan cara apa, kemudian secara perlahan-lahan ekonominya transformasi dan memulai ulang kembali dan bergeraknya seperti apa.

"Tentunya keputusan yang membangun kepercayaan itu adalah pemerintah menetapkan dengan cara apa dan berapa anggaran yang disiapkan oleh pemerintah," kata Misbakhun.

Sebelumnya Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menilai bahwa stimulus fiskal yang digelontorkan pemerintah mampu menopang pertumbuhan ekonomi RI yang tercatat masih tumbuh pada kisaran positif yakni mencapai 2,97 persen pada triwulan pertama tahun ini.

Perry mengatakan bahwa stimulus fiskal pemerintah dalam bentuk bansos ternyata berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi.

Menurut dia, stimulus fiskal yang mendorong konsumsi pemerintah untuk belanja program sosial menjadi indikator yang menyebabkan ekonomi RI tumbuh tidak negatif.

Semula bank sentral ini memprediksi konsumsi pemerintah akan tumbuh 2,3 persen namun Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan realisasi pertumbuhan konsumsi pemerintah pada triwulan satu lebih tinggi dari perkiraan BI yakni 3,74 persen. (Antara)