KPR Syariah, Akses Milenial Miliki Rumah

KPR Syariah, Akses Milenial Miliki Rumah
Foto: Antara

INILAH, Bandung - Mimpi memiliki rumah sendiri sudah sejak di awal menikah hendak diwujudkan pasangan muda Kiki Rahman (31) dan ZN Sonia (29). Selama dua tahun lebih usia pernikahan, mereka memang masih tinggal seatap dengan orang tuanya.

Karenanya, niat membeli rumah sendiri pun hendak mereka realisasikan. Untuk itu, mereka pun tak hanya disibukkan dengan mencari lokasi perumahan yang hendak dibeli. Namun, juga menentukan fasilitas kredit kepemilikan rumah (KPR) yang hendak mereka manfaatkan.

“Kami memang ingin menggunakan KPR. Banyak sih KPR yang bisa kami manfaatkan. Baik itu dari KPR konvensional dan KPR syariah. Namun, kami tetap harus menyesuaikan kondisi keuangan kami. Bagaimana besaran bunga dan cicilannya supaya tidak memberatkan kami nantinya,” kata Kiki kepada Inilah Koran, beberapa waktu lalu.

Dia menyebutkan, banyaknya pilihan KPR ini justru mengharuskan sikap cermat mempertimbangkannya. Tak hanya mencari informasi dari internet, Kiki pun bertanya ke kerabat dan teman-temannya yang sudah memanfaatkan KPR. Hingga akhirnya, Kiki memantapkan pilihan mengakses KPR syariah.

KPR syariah dianggapnya sesuai dengan kemampuan keuangannya dalam mencicil nantinya. Sebab, ayah dari satu anak ini menilai KPR Syariah memiliki kepastian cicilan.

“KPR syariah itu kan fixed rate. Jadi, besaran cicilan tidak terpengaruh naik turunnya suku bunga. Ini yang meringankan kami. Sesuai dengan budget kami,” lanjut Kiki.

Optimisme Kiki untuk segera memiliki rumah semakin besar dengan mengakses KPR syariah. Selain itu, dengan akad murabahah berikut prinsip syariah yang diterapkan, membuatnya relatif lebih tenang dalam memanfaatkan KPR syariah.

Kisah Kiki itu merupakan satu di antara begitu banyak generasi milenial yang ingin memiliki rumah sendiri. Generasi milenial yang merupakan ceruk pasar tersendiri baik bagi kalangan perbankan maupun pengembang perumahan.

Di Jawa Barat, misalnya, sebanyak 51% dari pasar properti merupakan generasi milenial. Menurut  Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Jawa Barat Joko Suranto, generasi milenial merupakan pasar potensial bagi pengembang perumahan saat ini.

Generasi milenial kebanyakan merupakan target pasar perumahan kelas menengah dengan harga di kisaran Rp300-500 juta. Sementara, milenial yang berminat terhadap rumah sederhana bersubsidi biasanya merupakan milenial sebagai pembeli rumah pertama.

Lebih lanjut Joko menyebutkan, pembiayaan kepemilikan rumah di Jawa Barat sejauh ini masih didominasi perbankan konvensional. Perbankan konvesional memiliki porsi lebih dari 80% dalam penyaluran pembiayaan perumahan melalui KPR.

“Kalau untuk KPR syariah masih kecil. Angkanya masih di bawah 20%,” terang Joko saat dihubungi melalui ponselnya.

Dia menyebutkan, pengakses KPR syariah di kalangan generasi milenial juga masih sangat rendah.

Penyebabnya, sosialisasi KPR syariah ini belum terlalu masif di kalangan generasi milenial. Untuk itu, tak heran jika penetrasi pasar KPR syariah belum mampu menyaingi KPR konvensional yang memang terlebih dahulu ada.

Dalam hal pembiayaan perumahan, pihak pengembang ada yang menyerahkan pilihan ke konsumen terkait alternastif fasilitas pembiayaan KPR dari bank konvensional atau syariah. Menurut Joko, berdasarkan kondisi di lapangan menunjukkan kebanyakan konsumen ternyata cenderung memilih KPR konvensional.

Ceruk pasar generasi milenial yang masih terbuka ini bukannya tidak diperhatikan lembaga perbankan. Buktinya, Bank BNI Syariah yang membidik generasi milenial sebagai pasar melalui program Tunjuk Rumah. Dalam program yang digelar hingga Juni mendatang, penyaluran pembiayaan melalui BNI Griya iB Hasanah sebesar Rp1,4 triliun.

“Program Tunjuk Rumah diharapkan dapat mempermudah generasi milenial memiliki rumah,” kata Direktur Bisnis Ritel dan Jaringan BNI Syariah Iwan Abdi dalam rilis resmi, belum lama ini.

Program Tunjuk Rumah ini dikatakan Iwan memiliki kelebihan tersendiri. Yakni harga khusus, cicilan tetap hingga akhir cicilan, bebas biaya administrasi, bebas biaya KPR, bebas biaya denda, dan bebas taksasi.

Dengan menggandeng seribu pengembang, pembiayaan perumahan melalui program ini per April 2020 lalu telah mencapai Rp766,7 miliar. Kebanyakan, daerah terbesar penyerapan yakni wilayah Jabodetabek.

Sementara, secara keseluruhan penyerapan pembiayaan KPR BNI Syariah per Februari 2020 lalu mengalami pertumbuhan sebesar 11,5%. Hingga periode tersebut, outstanding pembiayaannya mencapai Rp13,23 triliun.

Gencarnya penetrasi lembaga perbankan syariah dalam pembiayaan KPR syariah memang menjadi angin segar bagi generasi milenial. KPR syariah bisa menjadi akses alternatif generasi milenial memiliki rumah. Pihak pengembang pun merespons positif upaya ini.

Diharapkan, hal itu mampu mendongkrak kembali pasar perumahan yang ikut terimbas pandemi Covid-19. Menurut Joko, saat ini di Jawa Barat bisnis properti anjlok hingga 70%. Dalam kondisi seperti sekarang ini, butuh waktu paling cepat 1 tahun untuk memulihkannya.

“Bisnis itu kan tidak bisa on-off begitu saha. Begitu pandemi virus corona dapat diatasi bisnis langsung tumbuh kembali. Setidaknya, butuh waktu paling tidak setahun untuk memulihkannya,” tegas Joko.

Sementara itu, pakar ekonomi dan perbankan Universitas Sangga Buana (USB) Bandung Asep Effendi menilai perbankan syariah dengan KPR syariahnya tetap memiliki potensi besar diminati generasi milenial. Cicilan tetap yang tidak terpengaruh naik turunnya suku bunga diakuinya merupakan daya tarik bagi KPR syariah bisa diminati generasi milenial.

Sebab, cicilan tetap tersebut meringankan ekonomi maupun kebutuhan generasi milenial. Dengan cicilan tetap, generasi milenial tidak perlu khawatir mengeluarkan dana ekstra untuk membayar cicilan yang melonjak akibat fluktuasi bunga kredit.

“Tapi tetap perlu edukasi lebih lanjut supaya produk syariah seperti KPR Syariah bisa semakin diterima oleh generasi milenial,” imbuh Asep.

Transformasi bisnis dengan mulai memanfaatkan teknologi digital informasi dianggap langkah tepat mendekati pasar milenial.

Seperti diketahui, teknologi digital informasi akrab dengan keseharian milenial. Melalui gadget di tangan, generasi milenial bisa memperoleh informasi sekaligus mempelajari prinsip-prinsip syariah yang diberlakukan dalam KPR syariah.

Menurut Asep, dengan semakin mudahnya mengakses informasi tersebut, lambat laun minat generasi milenial terhadap KPR syariah diyakini semakin tumbuh. Dengan kata lain, KPR syariah bisa menjadi akses utama bagi generasi milenial memiliki hunian. (dnr)