Sedih di Musim Corona

Sedih di Musim Corona

LELAKI itu kelihatan sedih sekali, duduk termangu sendirian di teras rumahnya. Tetangganya ada yang menyapanya sambil bertanya mengapa dia tampak murung. Dia berkata lirih: "Aku diisolasi di rumah sejak sebelum Corona viral sebagai ancaman. Sementara isteriku lagi sakit-sakitan." Tetangganya itu mengernyitkan dahi seakan melambangkan tanda tanya tak percaya: "Sakit apa? Bukannya isterimu tadi masih pergi ke mall dengan beberapa temannya?"

Lelaki itu menghela nafas panjang sambil berkata: "Dia memang rajin sekali ke mall atau tempat belanja lainnya. Bulan lalu aku tanya dia mengapa suka sekali belanja. Jawabnya adalah bahwa belanja atau shopping itu sejenis terapi kehidupan. Ternyata dia itu terapi terus setiap hari. Berarti dia sakit kan? Karena terapi hanya untuk mereka yang sakit."

Maaf bagi mereka yang suka belanja, bukan niat menyinggung. Namun berfikirlah sebelum belanja. Kata beberapa guru kehidupan: "orang yang suka berbelanja sesuatu yang tidak sesungguhnya dibutuhkan, pada saatnya akan dijauhi oleh sesuatu yang sesungguhnya dibutuhkan."

Betapapun uang berlebih, itu bukan untuk kita sendiri. Allah ciptakan makhluk hidup yang kekurangan di sekitar kita, yang tidak pernah berbelanja sama sekali. Kelebihan harta pada kita adalah untuk berbagi dengan mereka. Uang yang disedekahkan tidak akan pernah hilang, ia pergi untuk mengundang teman-temannya berkumpul pada sang dermawan itu.

Di musim seperti kini, begitu banyak yang kehilangan pekerjaan, begitu banyak yang kesulitan untuk kelanjutan hidup, begitu banyak yang galau dengan kelanjutan hidupnya. Kalau sedang belanja, sertakan dalam ingatan kita saudara-saudara kita. Berbuatlah untk diri dan juga untuk orang lain. Bukankan sebagian kebahagiaan kita Allah ttipkan di aksi kita membahagiakan orang lain? Selamat berbuat kebajikan.

O iya, tak lupa saya ucapkan terimakasih kepada semua yang telah berdonasi untuk kelanjutan pembangunan Masjid dan Asrama Tahfidz Pondok Pesantren Kota Alif Laam Miim. Semoga hartanya semakin berkah dan berlimpah. Salam, AIM. [KH Ahmad Imam Mawardi]