Industri Babak Belur karena Covid-19 Kecuali Sawit

Industri Babak Belur karena Covid-19 Kecuali Sawit

INILAH, Jakarta - Banyak sekali industri yang babak belur terkena dampak Pandemi COVID-19. Namun tak berlaku untuk industri sawit, lantaran permintaan minyak sawit dunia, boleh dibilang stabil.

Mukti Sardjono, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), menyatakan, ekspor minyak sawit mengalami kenaikan sebesar 83 ribu ton. Kontribusi utama adalah mintak mentah sawit atau Crude Palm Oil (CPO) sebesar 113 ribu ton, dan oleokimia sebesar 63 ribu ton. "Kenaikan ekspor terbesar terjadi untuk tujuan Bangladesh, Afrika dan China," papar Mukti melalui rilis kepada media di Jakarta, Sabtu (9/5/2020).

Sedangkan ekspor ke Uni eropa, India dan Timur Tengah, kata Mukti, mengalami kenaikan meski tipis. Sedangkan ekspor ke Pakistan dan Amerika Serikat justru mengalami penurunan. "Khusus kenaikan ekspor ke China, karena diiformasikan China telah mulai pulih dari panedemi Covid-19," tuturnya.

Informasi saja, produksi minyak sawit pada Maret 2020, sedikit turun (-0,9%) ketimbang Februari 2020. Sementara, konsumsi di dalam negeri, justru turun agak dalam yakni 3,2%.

Di mana, ekspor minyak sawit mengalami kenaikan 3,3%, sementara harga minyak mentah sawit (Crude Palm Oil/CPO) turun dari US$722 (Februari) menjadi US$636 per ton-Cif Rotterdam pada Maret. Namun, nilai ekspornya naik 0,6% menjadi US$1,82 miliar.

Kalau disandingkan Januari-Maret 2019, produksi periode sama di 2020 memang lebih rendah 14%. Dan, konsumsi dalam negeri naik 7,2%; ekspor lebih rendah 16,5%; nilai ekspor 9,45% lebih tinggi yakni senilai US$5,32 miliar.

Konsumsi minyak untuk pangan di dalam negeri turun sekitar 8,3%, sebaliknya konsumsi untuk produk oleokimia naik 14,5%; dan konsumsi biodiesel relatif stabil. Kembali ke Mukti, ketidakpastian waktu teratasinya pandemi COVID-19 menjelang puasa, memicu konsumsi minyak sawit untuk produk pangan, turun.

Sebaliknya, produk oleokimia naik karena kebutuhan bahan pembersih sanitizer melonjak. Dari 68 ribu ton kenaikan konsumsi oleokimia, sebanyak 55% terjadi pada gliserin yang merupakan bahan baku hand sanitizer. Konsumsi minyak sawit untuk biodiesel relatif tetap, padahal harga minyak bumi rendah dan konsumsi solar turun sekitar 18%.

"Covid-19 telah mengganggu perekonomian dunia, tetapi semua negara tidak akan sanggup berlama-lama dalam situasi seperti saat ini dan harus segera bangkit. Oleh sebab itu, peningkatan produktivtas dan efisiensi harus menjadi prioritas untuk menjaga viabilitas dari industri," terang Mukti. [inilahcom]