Industri Jabar, Sudah Lesu Kemudian Dibunuh Covid-19

Industri Jabar, Sudah Lesu Kemudian Dibunuh Covid-19

INILAH, Bandung,- Sektor usaha di Indonesia termasuk di Jawa Barat memang sudah lesu terdampak oleh ekonomi global. Hal itu sebelum dihantam oleh Pandemi Covid-19 yang membuat keberlangsungan industri kian tidak kondusif.

Pakar ketenagakerjaan dari Indonesian Consultant at Law (IClaw), Hemasari Dharmabumi, mengatakan sebuah economy crackdown atau hantaman ekonomi terjadi seiring dengan adanya pandemi. Tak terkecuali di bidang ketenagakerjaan.

Adapun Jawa Barat merupakan provinsi dengan aktivitas manufaktur dan industri terbesar di Indonesia. Akibatnya, ribuan pekerja dirumahkan dan terkena PHK mengingat economy crackdown terjadi saat situasi ketenagakerjaan khususnya di Jawa Barat sedang tidak kondusif.

"Jadi di kondisi Covid-19 ini, kayak kalau orang sudah pingsan, tinggal dibunuh saja gitu. Covid ini menghantam. Oleh karena itu, sekarang situasi Jawa Barat, ada beberapa pabrik padat karya itu terhantam," kata Hemasari di Bandung, Minggu (10/5/2020).

Hingga pertengahan April 2020, dia mengatakan, secara nasional sudah ada 2,7 juta pekerja yang terdampak. Dari jumlah tersebut sebanyak 1,7 juta pekerja dirumahkan. Sementara di Jabar sedikitnya sekitar 200 ribu pekerja yang dirumahkan dengan hanya menerima gaji antara 30 persen sampai tidak digaji sama sekali.

Kemudian secara nasional 749,4 ribu orang pekerja formal terdampak PHK, 282 ribu pekerja informal usahanya terganggu, dan 100 ribu pekerja migran dipulangkan baik dari Asia maupun Timur Tengah.

Sejumlah sektor usaha pun mengalami dampak Covid-19, atau yang disebut the fall sector. Sektor yang terdampak sampai lebih dari 30 persennya, kata Hemasari, adalah pariwisata seperti perhotelan, objek wisata, dan restoran. Kemudian sektor penerbangan, MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition), event organizer, manufaktur, tekstil dan garmen.

"Apalagi di Jawa Barat yang banyak industri garmen dan tekstil. Bukan berarti orang tidak beli baju, tapi masalahnya order dari buyer-nya berhenti. Sekarang Nike, Zara, H&M, Calvin Klein, Adidas, cancel pesanannya. Industri garmen yang besar-besar itu dia memproduksi pesanan, bukan dia punya produk sendiri. Order dari brand-brand terkenal dunia itu berhenti," paparnya.

Tidak hanya itu, menurut Hemasari, hantaman pula terjadi di sektor perkebunan yang saat ini banyak yang berhenti beroperasi lantaran hasil perkebunannya tidak dapat dijual. Jangankan perkebuann, pertanian bunga yang terkoneksi dengan event organizer pun sangat terdampak. Di Kabupaten Bandung Barat setiap harinya berton-ton bunga dibuang dan petaninya jadi rawan pangan. Industri lain yang paling terdampak adalah bahan bakar.

Sektor yang terdampak antara 10 sampai 30 persen adalah multifinance, sport, entertainment, cinema, otomotif, mall, dan sektor komoditas. Sedangkan yang terpengaruh di bawah 10 persen adalah elektronik, properti, dan konstruksi

Selain ada sektor yang terpuruk selama Covid-19, katanya, ada juga yang malah menguat selama wabah ini atau disebut The Rise Sector. Sektor yang meningkat sampai di atas 30 persen adalah grocery atau kebutuhan pangan, e-commerce, logistik, jasa antar barang dan makanan, dan remote working.

Sektor usaha yang berpeluang meningkat dengan cakupan 10 persen sampai 30 persen selama pandemi Covid-19 adalah streaming service, media massa dan telekomunikasi, online learning, serta cloud service.

"Bagi media massa, Covid-19 itu menyelamatkan. Kalau untuk media, masih tetap masih bisa memposting banyak sekali atau melaporkan banyak sekali kejadian-kejadian, terutama yang berkaitan dengan endemi ini," katanya.

Sedangkan yang berpeluang meningkat dengan cakupan 10 persen adalah telemedical, cleaning service, homefitness. Terbukti, katanya, sektor-sektor yang mengandalkan teknologi informasi berpeluang selamat selama pandemi ini. (rianto nurdiansyah)