Ada Kelemahan Bahaya Krisis Pangan Ancam Indonesia

Ada Kelemahan Bahaya Krisis Pangan Ancam Indonesia
istimewa

INILAH, Jakarta - Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies, Jerry Massie mengatakan saat ini krisis pangan sudah di depan mata. Di sisi lain Indonesia masih bergantung pada permintaan impor 2 juta ton beras.

Pemberlakuan PSBB lantaran Covid-19 otomatis lahan pertanian terbengkalai. Dan saat ini tersisa 7,1 juta hektar atau setiap tahun menyusut.

"Ini terbukti saat ini Indonesia mengalami defisiit beras yang terdapat di 7 provinsi bahkan 11 provinsi defisit Jagung.Memang Kementan mengupayakan produksi beras 6,4 juta ton tetapi kondisi pandemi corona mustahil hal itu terwujud," kata Jerry, Senin (11/5/2020).


Ada indikator mengukur stok pangan salah satunya kemampuan jangka waktu stok pangan. Oleh karena itu, metode measurable and achiavable (pengukuran dan pencapaian) perlu diterapkan agar bisa mengetahui jumlah produksi, stok dan komsumsi.

"Salah satu Riau yang mengalami defisit beras dan pemerintah menganjurkan warga beralih ke sagu," kata dia.

Memang jumlah lahan tidur kita cukup banyak, bahkan lahan pertanian sudah beralih fungsi ke perumahan. Faktor lain petani beralih pekerjaan ke Ojol (ojek online).

"Penurunan produksi beras terus terjadi pada 2018 di Jawa Tengah produksinya mencapai 10,4 juta ton pada 2018 dan turun menjadi 9,6 juta ton pada 2019. Jatim 10,2 pada 2018 turun 9,5 juta ton pada 2019 serta di provinsi lainnya. Hal ini menjadi acuan terkait food crisis is coming (krisis pangan akan datang) sudah di depan mata," urainya.


Jerry menilai kelemahan pemerintahan Jokowi saat ini tak menitik-beratkan di sektor pertanian padahal Indonesia adalah negara maritim dan pertanian. Kita sibuk urus mega proyek. Bisa ke arah kelaparan. Bibit kita dan pupuk tidak mendukung 


Saat ini untuk mempertahankan pangan maka otomatis program pemerintah seyogianya fokus ke pertanian. Jika pemerintah lengah maka bahaya kelaparan mengancam Indonesia seperti diramalkan lembaga pangan dunia FAO.

"Belajar ke gaya presiden kedua Indonesia mendiang Soeharto pada 1984 Indonesia berhasil mencapai swasembada beras dengan menghasilkan 27 juta ton produksi beras kita. Pada 2019 alu produksi beras kita turun 2,63 juta ton dari produksi 31,31 juta ton," tandasnya. (inilah.com)