Sat Narkoba Polres Bogor Tangkap Pengedar Obat Terlarang 

Sat Narkoba Polres Bogor Tangkap Pengedar Obat Terlarang 
Foto: Reza Zurifwan

INILAH, Bogor - Maraknya peredaran obat-obatan golongan G ilegal membuat masyarakat Kabupaten Bogor resah. Mendapati laporan itu, Sat Narkoba Polres Bogor pun melakukan penyelidikan hingga penangkapan para pengedarnya.

Beberapa waktu lalu, aparat menangkap dua pengedar di Kecamatan Dramaga. Kali ini, polisi menangkap dua pengedar lainnya di Kecamatan Cibungbulang.

Kapolres Bogor AKBP Roland Rolandy mengatakan modus yang dilakukan pun relatif sama. Dua pengedar itu menjual ke toko obat atau apotek tak berizin. Para penyalahguna atau pemakainya pun dengan mudah dan murah mendapatkan obat tanpa harus disertai resep dokter.

"Setelah mengungkap kasus peredaran pekan lalu dengan, kali ini Sat Narkoba berhasil menangkap pengedar obat-obatan golongan G  ilegal di wilayah Cibungbulang Kabupaten Bogor," kata Roland, Senin (11/5/2020).

Dia menjelaskan, dalam penangkapan dua tersangka pengedar ini pihaknya pun berhasil mengamankan barang bukti berupa ragam obat-obatan golongan G dan sejumlah uang.

"Sat Narkoba Polred Bogor mengamankan barang bukti berupa 800 butir obat Trihexypenidyl, 187 butir obat Heximer, 70 butir obat Tramadol, dan sejumlah uang tunai senilai Rp435 ribu yang diduga hasil penjualan," terangnya.

Roland mengaku, terungkapnya peredaran obat-obatan terlarang itu berdasarkan laporan masyarakat sekitar. Warga melaporkan ada remaja yang hilang kesadarannya akibat mengkonsumsi obat-obatan golongan G ilegal ini.

"Kami bergerak cepat setelah mendapatkan informasi dari masyarakat tentang adanya peredaran obat-obatan golongan G  ilegal ini dan berhasil mengamankan dua orang tersangka berinisial RA dan S," tutur Roland.

Sementara itu, Kasat Narkoba Polres Bogor AKP Chandra Eka Mulyana menjelaskan sejauh ini sedikitnya ada 4 kecamatan yang masuk dalam zona merah peredaran obat-obatan terlarang yakni Citeureup, Cigombong, Cibungbulang, dan Dramaga. 

Dia menambahkan, para penyalahguna atau pemakai obat-obatan itu paling banyak para pelajar usia remaja. 

"Akibat perbuatannya, para pengedar itu dituntut dengan pasal 197 dan pasal 196 UU No 36/2009 tentang Kesehatan dengan ancamana pidana penjara paling lama 15 tahun," ucapnya. (Reza Zurifwan)