Sikap Kami: Tipu-tipu Daging Celeng

Sikap Kami: Tipu-tipu Daging Celeng

KESULITAN seharusnya melahirkan empati, bukan “curi-curi”. Apalagi tindakan culas yang dilakukan, menyentuh pula ruang-ruang keyakinan. Maka, terhadap para pelaku penjual daging celeng, kita harapkan dijatuhkan hukuman yang setimpal.

Semua kita, tanpa kecuali, menghadapi kesulitan di tengah wabah virus corona. Tak peduli siapapun. Yang beda mungkin level kesulitannya, beban beratnya. Virus penyebab Covid-19 itu membuat kita betul-betul terpuruk, tak hanya soal kesehatan, juga ekonomi.

Apakah karena kesulitan itu rakyat kemudian menjadi mudah ditipu-tipu? Semestinya tidak. Sebab, kesulitan harusnya melahirkan empati. Harus memunculkan rasa senasib sepenanggungan.

Kita yakin, keempat pelaku penjual daging celeng di Kabupaten Bandung, tak melakukannya karena mereka sama-sama mengalami kesulitan ekonomi tersebab pandemi. Faktanya, mereka sudah lama melakukan. Hampir setahun. Menjual 63 ton daging celeng kepada masyarakat. Hanya, mereka tentu memanfaatkan situasi kesulitan ekonomi masyarakat, di tengah pandemi, Ramadan, dan sebentar lagi lebaran, untuk melapangkan bisnis ilegalnya.

Artinya, itu sudah mata pencaharian mereka. Mencari rezeki di jalan yang keliru. Melanggar hukum, memperdaya konsumen, apalagi bagi konsumen muslim yang haram mengkonsumsi daging celeng.

Itu sebabnya, hemat kita, kesalahan mereka secara hukum formal, patut diduga berlapis-lapis. Belum lagi pengabaian moralitas, menjual barang haram terhadap masyarakat muslim.

Anehnya, persoalan seperti ini, secara periodik kerap terjadi. Masa-masa menjelang lebaran, di mana umat muslim membutuhkan daging untuk merayakan hari kemenangan, justru dimanfaatkan dengan tipu muslihat pedagang daging celeng.

Maka, sebenarnya tak ada alasan meringankan bagi hukumam pedagang daging celeng, jika mereka terbukti bersalah dalam proses peradilan. Yang memperberat kesalahannya jusru banyak.

Kepada masyarakat, kita mengajak untuk semakin waspada di tengah suasana yang ruwet ini. Sikap hati-hati adalah cara terbaik agar kita tak menjadi korban tipu-tipu. Sebab, dalam kondisi seperti sekarang ini, di tengah kesulitan ekonomi yang kian berat, tipu muslihat hanyalah salah satu bentuk kejahatan yang mengintai kita. Banyak kejahatan lainnya. Jadi, tetap waspada. (*)