Liga 2, Bangun Dululah!

Liga 2, Bangun Dululah!

MEMBANGUN klub dengan profesionalisme yang kuat adalah pekerjaan superberat. Naik ke kasta tertinggi tidak hanya memberi ruang di kompetisi paling bergengsi, melainkan juga tanggung jawab yang tiada bertepi.

Tak ada keberhasilan tanpa pergulatan. Dalam sistem sepak bola profesional, pergulatan itu bukan hanya soal uang, tapi juga hati, kesungguhan, dan totalitas. Itulah yang membuat sebuah klub bisa bertahan dalam persaingan bebas.

Bulan ini, atau tepatnya bulan lalu, kita mendapat contoh betapa mengurus klub bola yang betul-betul profesional, tidaklah semudah yang dibayangkan. National Dispute Resolution Chamber (NDRC) memenangkan 25 perkara sengketa tunggakan gaji pemain Kalteng Putra terhadap manajemen dan pemilik klub.

Siapakah Kalteng Putra? Dia klub yang musim lalu sekonyong-konyong berkompetisi di Liga 1. Tradisi dan sejarahnya sangat singkat. Nyaris tak ada pengalaman di persaingan papan atas.

Menjelang Kompetisi Liga 1 musim lalu bergulir, manajemen klub beranggapan seolah-olah kompetisi adalah gelanggang mudah. Semudah lidah manajemen klub menyampaikan kabar: mereka tengah bernegosiasi dengan Diego Forlan, Zlatan Ibrahimovic, dan sederet pemain kelas dunia lainnya. Untung semua gagal, atau tepatnya hanya di angan-angan. Bayangkan, jika Forlan dan Ibra ikut bergabung dan menghadapi kenyataan seperti 25 pemain yang ditunggak gajinya itu.

Rata-rata –tentu tidak semua—klub Liga 2 kelasnya seperti Kalteng Putra. Tak banyak yang memiliki hati, kesungguhan, uang, dan totalitas. Maka, pergantian kepemilikan klub, menjadi hal yang biasa. Klub-klub bisa terbang dan hinggap di kota lain karena pemiliknya berganti.

Pergantian kepemilikan klub bukanlah hal yang aneh. Lazim. Di Eropa, banyak klub-klub yang kini dikendalikan jutawan Arab. Dari era Fulham hingga Manchester City dan Paris St Germain. Tapi, pembelian klub tidaklah mengubah basis klub tersebut. Sebab, basis itulah sebenarnya salah satu kekuatan klub.

Harus kita akui, hanya klub-klub Liga 1 yang memiliki dasar yang kuat seperti itu. Klub-klub Liga2, meski levelnya adalah klub profesional, kapasitasnya masih cukup jauh dari harapan.

Itulah sebabnya, meski berada pada status yang sama, yakni sama-sama klub profesional, menjual Kompetisi Liga 2 demikianlah sulitnya. Musim lalu, kompetisi tanpa titel. Sebab, tak ada yang mau jadi sponsor utamanya.

Itu maknanya, Liga 2 dalam konteks marketing sepak bola, belum laik jual. Tentu ada alasan-alasan khususnya. Salah duanya adalah soal jumlah penonton yang masih sedikit selain kuantitas dan kualitas tayangan televisi yang kalah baik dibandingkan Liga 1.

Musim lalu, misalnya, rata-rata penonton yang datang ke stadion hanya sekitar 3.500 orang. Hanya sepertiga dibanding rata-rata penonton klub Liga 1 yang mencapai 9.359. Salah satu laga Liga 1 musim lalu, yakni pertandingan Persija lawan Persib, bahkan disaksikan 70 ribu penonton.

Dalam konteks demikian, maka isu yang berseliweran bahwa klub-klub Liga 2 ingin kebagian saham pada operator kompetisi, PT Liga Indonesia Baru (LIB), sebenarnya belumlah patut untuk didorong-dorong. Justru yang perlu didorong adalah bagaimana “mendewasakan” klub-klub Liga 2 terlebih dulu.

Gampangkah? Sekali lagi tidak. Tapi, memang mengurus atau memiliki klub tak ada yang gampang. Itu sebabnya, sejak dulu kita selalu mendengar orang-orang yang memiliki dan mengurus klub adalah “orang-orang gila”. Dari TD Pardede hingga Benny Mulyono, dari Beniardi, A Wenas, Sigit Harjoyudanto, hingga rasa-rasanya generasi yang medekati tataran itu terakhir kali adalah Nirwan Bakrie.

Maka, yang perlu dilakukan para pemilik klub itu, termasuk manajemennya, adalah membangun klub bermodal itu tadi: rasa cinta, sepenuh hati, kesungguhan, totalitas, termasuk soal uang. Yang terakhir ini –uang—tentu bisa didapat dengan prestasi dan strategi pemasaran yang tepat.

Dengan kemampuan klub, dari sisi prestasi, daya tahan, dan sisi-sisi marketing yang kuat, pada akhirnya tentu akan menghadirkan kompetisi yang sungguh-sungguh, apakah klub berada di Liga 2 atau 1. Tidak mudah naik turun. Tidak zig-zag seperti yang kerap terjadi selama ini.

Dengan kondisi seperti itu, apakah nanti klub-klub Liga 2 akan menjadi klub pemilik saham perseroan terbatas operator liga, takkan jadi soal. Atau, siapa tahu, selain PT Liga Indonesia Baru (LIB), nanti klub-klub Liga 2 bersama PSSI bikin badan usaha sendiri yang sama-sama tangguhnya, sama kuat, dan sama markettable. (*)