Dokter Bingung, Pasien Sembuh Corona di Kab Cirebon Positif Lagi, Lalu Sembuh Lagi

Dokter Bingung, Pasien Sembuh Corona di Kab Cirebon Positif Lagi, Lalu Sembuh Lagi
Jubir gugus tugas covid-19 Pemkab Cirebon, Nanang Ruhyana. (Maman Suherman)

NILAH, Cirebon - Kasus salah satu pasien di Kabupaten Cirebon yang terkonfirmasi positif  covid-19 terbilang unik sekaligus membingungkan.

Bagaimana tidak, setelah dinyatakan positif dan menjalani isolasi selama 14 hari pada salah satu rumah sakit rujukan covid-19, pasien tersebut dinyatakan sembuh. Namun beberapa hari kemudian, untuk memastikan kesembuhannya, dia diperiksa lagi tapi hasilnya kembali positif.

"Ia ini memang sedang dicari apa penyebabnya," kata Jubir gugus tugas covid-19 Pemkab Cirebon, Nanang Ruhyana, Minggu (17/5/2020) lewat sambungan telepon selulernya 

Namun anehnya lanjut Nanang, beberapa hari kemudian pasien tersebut kembali melakukan tes swab, dan hasilnya kembali negatif. Nanang memastikan, bahwa hasil swab tersebut benar-benar negatif dan keluar pada Jumat sore kemarin. Malahan, Nanang mengaku mengetahui secara persis karena tes swabnya juga berbarengan dengan dirinya.

"Waktu itu kami satu ruangan sebelum menjalani tes swab. Hasilnya pada jumat sore kemarin, dia dinyatakan negatif. Padahal beberapa waktu lalu, dia kembali positif setelah sebelumnya dinyatakan sembuh dari status PDP. Imunitas tubuhnya seperti tidak stabil," ungkap Nanang.

Menurut Nanang, orang tadi kembali akan melakukan tes dengan metoda media lainnya, bukan hanya swab tenggorokan dan hidung namun ada swab lainnya. Nanang merujuk pada komentar ketua IDI Kabupaten Cirebon, dr Ahmad Fariz Malvi Zamzam Zein, yang menilai kasus tersebut perlu kajian secara ilmiah.

"Ya nanti tunggu hasilnya. Kalau tidak salah hari ini (minggu, red) orang ini akan menjalani tes ulang. Nanti hasilnya saya publis ke teman - teman media. Mungkin besok telat-telatnya," ungkap Nanang.

Sementara, Ketua IDI Kabupaten Cirebon dr Ahmad Fariz Malvi Zamzam Zein SpPD beberapa waktu lalu menyebutkan, ada beberapa asumsi terkait kondisi salah satu pasien tersebut. Namun, asumsi tersebut harus dibuktikan secara ilmiah.

“Masih dikaji. Pasien ini sudah sudah swab ulang dengan beberapa metode, lalu periksa antibodinya lewat rapid test,” jelas Ahmad.

Dia menambahkan, upaya memperkuat diagnosis baik dengan menggunakan rapid test atau swab test, bisa membuka kunci penanganan dini secara cepat dan tepat. Ini penting, agar kajian epidiomologi bisa cepat dilakukan. Pasalnya, Virus ini penularannya sangat cepat dan tinggi.

"Penanganannya juga harus cepat dan tepat. Bahkan penanganannya harus lebih cepat dari penyebarannya," tukas Ahmad. (maman suharman).