Pelaksanaan PPDB, Perburuan Siswa dan Perburuan Sekolah

Pelaksanaan PPDB, Perburuan Siswa dan Perburuan Sekolah
Dadang A. Sapardan, Kabid Pendidikan SMP Disdik Kabupaten Bandung Barat. (agus sn)

Pelaksanaan PPDB pada berbagai jenjang pendidikan merupakan siklus tahunan yang menjadi program pemerintah dan diimplementasikan secara teknis oleh setiap sekolah, baik sekolah negeri, maupun swasta.

Berbagai langkah dilakukan oleh kepala sekolah sebagai pucuk pimpinan sekolah untuk dapat memfasilitasi siswa yang berminat pada sekolah yang dikelolanya. Demikian pula dengan siswa dan orang tua siswa yang pada awal tahun pelajaran harus masuk pada jenjang pendidikan lebih tinggi, mereka mulai mempersiapkan diri agar dapat diterima pada sekolah yang diharapkannya.

Pelaksanaan PPDB tidak jarang membuat cemas para pelaku yang terlibat di dalamnya. Sekolah cemas karena sering lahirnya kegalauan akan tidak terealisasinya ekspektasi jumlah siswa yang mendaftar pada sekolah tersebut.

Demikian pula dengan siswa dan orang tua, mereka cemas akan ketatnya persaingan pada sekolah yang diharapkan dimasukinya. Kedua fenomena kecemasan tersebut terjadi pada dua karakteristik yang berbeda. Kecemasan terjadi pada sekolah-sekolah di daerah serta sekolah di perkotaan dengan kategori kecil.

Kecemasan menerpa pula pada siswa dan orang tua siswa yang berada pada zona yang persaingannya sangat ketat. Kenyataan ini terutama terjadi pada siswa dan orang tua siswa di perkotaan. Pada kawasan ini tidak dapat dimungkiri bahwa persaingan untuk masuk pada sekolah-sekolah yang difavoritkan sangatlah ketat.

Pada kasus ini, kadang-kadang para orang tua siswa menempuh cara yang kurang baik untuk mendapatkan kursi pada sekolah yang diharapkan dapat menjadi tempat belajar anak-anaknya. Banyak kasus yang ditemukan pada pelaksanaannya, seperti melakukan pemalsuan dokumen atau meminta bantuan pihak-pihak tertentu untuk dapat meluluskan keinginannya.    

Kebijakan Pelaksanaan PPDB

Pada beberapa waktu sebelumnya, PPDB dilaksanakan oleh sekolah dengan bersandar terhadap hasil perolehan nilai siswa pada pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Dengan demikian, seluruh siswa berlomba-lomba untuk mendapatkan nilai UN setinggi mungkin sehingga dapat dijadikan tiket guna masuk pada sekolah yang diidamkannya.

Sejalan dengan perkembangan atas kajian yang dilakukan, Kemendikbud sebagai pemegang otoritas kebijakan pendidikan mengubah kebijakan pelaksanaan PPDB pada setiap sekolah. Lewat kebijakan terbarunya, pelaksanaan PPDB tidak menyandarkan diri pada perolehan nilai UN, tetapi menggunakan formulasi lain sebagai dasar pelaksanaannya.

Saat ini pelaksanaan PPDB menggunakan empat jalur sebagai formulasinya. Keempat jalur tersebut adalah jalur zonasi, jalur afirmasi, jalur perpindahan orang tua/wali, dan jalur prestasi. Jalur zonasi adalah jalur yang disediakan bagi siswa yang telah tinggal selama minimal satu tahun dalam satu zonasi tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah daerah.

Jalur afirmasi adalah jalur yang disediakan bagi siswa dari keluarga tidak mampu. Jalur perpindahan adalah jalur untuk calon siswa yang orang tua atau wali siswa mengalami perpindahan tugas kerja. Jalur prestasi adalah jalur bagi calon siswa yang memiliki prestasi akademik dan non-akademik.

Pemerintah dengan sengaja membuka jalur zonasi pada pelaksanaan PPDB dengan harapan agar sekolah dapat memfasilitasi siswa yang tinggalnya berdekatan dengan sekolah. Dengan demikian kebijakan tersebut memberi porsi lebih besar untuk siswa yang tinggal di sekitar sekolah melalui jalur zonasi.

Selain itu, jalur ini diambil sebagai upaya yang dilakukan untuk mengikis istilah sekolah favorit yang selama ini disematkan masyarakat pada sekolah tertentu.

Sekalipun demikian, penerapan jalur zonasi ini tidak berlaku untuk semua sekolah. Sekolah yang dapat menerapkan jalur zonasi adalah sekolah negeri, yaitu jenjang TK, SD, SMP, dan SMA. Kebijakan zonasi tidak diterapkan pada SMK, sekalipun berstatus sekolah negeri.

Sekolah lain yang tidak diwajibkan menerapkan jalur zonasi dalam pelaksanaan PPDB-nya adalah seluruh jenjang sekolah berstatus swasta, sekolah kerja sama, sekolah di daerah 3T, sekolah pendidikan layanan khusus, sekolah berasrama, sekolah pendidikan khusus, sekolah di daerah yang kekurangan siswa, dan sekolah Indonesia luar negeri.

Demikian pula dengan sekolah, pada pelaksanaan PPDB ini mereka melakukan perburuan siswa yang akan belajar pada sekolah yang dilaksanakannya. Dengan penerapan keempat jalur ini sekolah harus mampu menerapkan strategi efektif guna menarik siswa agar mendaftar pada sekolah yang dikelolanya.

Strategi yang dimungkinkan untuk dilakukan adalah melakukan perbaikan pelayanan terhadap siswa dan stakeholder pendidikan lainnya. Perbaikan pelayanan ini harus didasari dengan penerapan manajemen sekolah yang baik oleh setiap kepala sekolahnya, sehingga program-program yang diimplementasikannya dapat menarik minat para siswa.

Hal itu dimungkinkan karena saat ini siswa dan orang tua siswa, terutama di perkotaan tidak jarang melakukan kajian terhadap pelayanan yang diberikan oleh sekolah sebagai dasar penetapan mereka masuk pada sekolah sehingga tingkat kepercayaan siswa dan orang tua pada sekolah menjadi acuan utamanya.

Akan halnya dengan sekolah, dalam kaitan dengan pelaksanaan PPDB ini, sudah seharusnya melakukan perbaikan kualitas pelayanan terhadap seluruh warga yang menjadi bagian dari ekosistem sekolah.

Sebenarnya, perbaikan pelayanan sekolah tersebut seharusnya sudah dilakukan pada waktu-waktu sebelumnya. Dengan pelayanan maksimal yang diberikan, sekolah dimungkinkan akan diminati banyak siswa sehingga jumlah siswa yang mendaftar akan sesuai dengan ekspektasi sekolah. (sur)

Oleh: Dadang A. Sapardan

Kabid Pendidikan SMP Disdik Kabupaten Bandung Barat