Sikap Kami: Itaewon dan Erick Thohir

Sikap Kami: Itaewon dan Erick Thohir

BAGI KPopers, Itaewon tentu tak aneh lagi. Juga bagi emak-emak penggila belanja. Itulah sentra belanja terkenal di Seoul, Korea Selatan. Selain surga belanja, di sana kini juga bertebaran tempat hiburan.

Itaewon kini jadi pembicaraan bukan karena belanja. Di sinilah, klaster baru penyebaran Covid-19 menghebohkan Korea. Pengidap ini masuk-keluar bar dan virus pun tersebar. Hanya dalam sehari, dari sana muncul 100 pasien positif Covid-19 di Korea Selatan. Bayangkan, hanya dari satu orang!

Padahal, Korsel pernah dipuji sebagai negara paling berhasil melawan corona, seperti Vietnam. Korsel menggunakan kecepatan langkah dan tes yang luar biasa sehingga jadi negara pertama yang berhasil meredam. Kini, mereka menghadapi apa yang disebut sebagai gelombang kedua. Sekali lagi, hanya dari satu orang.

Apa yang terjadi di Itaewon sangat amat layak jadi pembelajaran kita. Terutama Jawa Barat yang sebentar lagi menyudahi pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Jabar termasuk salah satu provinsi paling berhasil melakukan PSBB, tapi dibanding Korsel tentu tak ada apa-apanya.

Korsel tentu tak bisa disamakan dengan Jabar. Itu pasti. Sialnya, perbedaan itu menempatkan kita di posisi lemah. Kita tak secepat Korsel. Warga kita tak sedisiplin mereka. Alih-alih disiplin diri, di tengah PSBB saja banyak yang selonong boy kok.

Dengan perbandingan seperti itu, maka peluang gelombang kedua itu, sebenarnya lebih besar terjadi di kita. Ini yang perlu kita pertimbangkan. Ingat, PSBB hanya berhasil menurunkan pasien positif baru, tapi tidak sesignifikan seperti yang terjadi di Korsel.

Harus kita akui, kita galau menghadapi virus corona. Tak hanya ketika pertama kali terjadi, juga sampai saat ini. Terjadi perubahan-perubahan regulasi yang memuakkan dari pemerintah.

Perubahan-perubahan regulasi yang bisa kita baca sebagai pelemahan perhatian terhadap ancaman Covid-19, terakhir ditunjukkan Kementerian BUMN. Kementerian yang dipimpin Erick Thohir itu mewajibkan karyawan BUMN berusia di bawah 45 tahun mulai bekerja pada 25 Mei 2020 mendatang. Apakah itu berarti orang berusia di bawah 45 tahun memiliki daya tahan kuat melawan corona?

Oh iya, bukankah 25 Mei 2020 itu hari kedua lebaran. Masih hari libur? Wajib ngantor di hari libur? Tak usah pejabat, K-Popers juga tahu. (*)