Hari Kemenangan (Idul Fitri) Pasca-karantina Covid-19

Hari Kemenangan (Idul Fitri) Pasca-karantina Covid-19
Ilustrasi (Antara)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar....

Kalau direnungkan, Ramadan dan Covid-19 itu bisa jadi sama-sama merupakan "ajang latihan" yang diberikan Allah Swt kepada umat manusia. Targetnya, Ramadan akan mencetak manusia yang bersih secara batin (takwa), sedangkan Covid-19 akan mencetak manusia yang bersih secara lahir (selalu menjaga kebersihan).

Cukup jelas disebutkan manfaat utama puasa dalam Al Quran bahwa Allah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS Al-Baqarah: 183).

Apalagi, Ramadan dan Covid-19 juga sama-sama mensyaratkan "karantina" bagi umat manusia untuk dapat mencapai target itu (takwa dan bersih). Ramadan memiliki "masa karantina" selama satu bulan penuh untuk menuju Idul Fitri (Hari Kemenangan), sedangkan Covid-19 juga memiliki masa karantina selama 7-14 hari untuk menuju sembuh (bersih).

Masa karantina sebagai syarat Ramadan dan Covid-19 itu akan membuahkan kesabaran hingga akhirnya meraih takwa dan bersih/sembuh. Artinya, Hari Kemenangan (Idul Fitri) selama Ramadan itu akan diraih bila sabar dengan "karantina" (puasa) untuk mendapatkan takwa. Demikian pula, Hari Kemenangan (Covid-19) selama pandemi Covid-19 itu juga akan dapat diraih bila sabar dengan "karantina" 7-14 hari untuk mendapatkan sembuh.

Sekretaris Lembaga Dakwah PBNU DR KH Moch Bukhori Muslim Lc MA menegaskan bahwa Allah Swt berjanji barangsiapa bertakwa pasti akan diberikan solusi atas segala persoalan kehidupan, termasuk persoalan pandemi Covid-19.

"Kesabaran sangat perlu kita pupuk, karena ujian akan berakhir dengan kemuliaan jika diiringi dengan kesabaran. Jadi, kesabaran dalam ketakwaan adalah kunci menghadapi pandemi ini," katanya dalam naskah Khutbah 7 Menit Idul Fitri 1441 H.

Ya, Nabi Yunus dikarantina di perut ikan hingga akhirnya mendapati umatnya bertaubat. Nabi Yusuf dikarantina di penjara hingga akhirnya keluar menjadi Nabi dan Raja. Nabi Muhammad saw juga melakukan karantina di Gua Hira selama 40 hari hingga akhirnya menerima wahyu surah pertama Al Quran yakni Al-Alaq.

Sementara itu, virolog (ahli virus) dari Balitbang Kementan drh Moh Indro Cahyono menyatakan cara melawan virus, termasuk Covid-19, adalah jaga kebersihan (cuci tangan, masker), jaga imun/kesehatan fisik (vitamin, madu, minum air, olahraga, jaga jarak), dan jaga kesehatan psikis (jangan panik, tenang, tawakal).

"Tingkat kematian Covid-19 sebenarnya hanya 3-4 persen, atau tidak melebihi SARS yang mencapai 9 persen. Bila tingkat kematian karena Covid-19 itu hanya 3 persen, maka ada 97 persen yang sembuh. Jadi, Covid-19 menjadi gawat karena masyarakat mengalami paranoid akibat paparan medsos yang mencekoki input menakutkan secara gencar, padahal kematian karena Covid-19 itu umumnya juga bukan hanya karena flu, tapi pasien memiliki komplikasi bawaan. Solusinya, perbanyak vitamin C, E, atau madu, kalau flu/pilek, tapi kalau hari ke-7 mengalami sesak napas, maka langsung ke dokter," katanya di Jakarta (18/3/2020).

Artinya, siapapun yang menjalankan Ramadan dan Covid-19 melalui "karantina" (puasa/berdiam di rumah) akan meraih Kemenangan (Idul Fitri/sembuh) bila senantiasa menjaga "bersih" secara batin (takwa) dan menjaga "bersih" secara lahir (hidup bersih).

Bersih secara batin (takwa) berarti menjaga kesucian hati (tidak sombong/dengki/ikhlas), mengonsumsi nutrisi batin (Al Quran/salat/sabar), dan bertakwa atau memproteksi jiwa sejak dini dengan fokus pada Allah (mematuhi perintah dan larangan Allah karena Allah atau mengharap rida Allah).

Bersih secara lahir (hidup bersih pasca-Covid-19) berarti di mana-mana pakai masker, selalu cuci tangan dan menyiapkan hand sanitizer/cairan penyanitasi tangan, menjaga jarak (WFH atau work from home/bekerja dari rumah atau membatasi kerumunan), dan menjaga imun tubuh (makan makanan bernutrisi tinggi untuk kesehatan).

"Pantangan orang bertakwa itu bila Allah tidak berkenan dan sifat yang paling membuat Allah tidak berkenan adalah tidak syukur, karena tidak syukur itu sama dengan menganggap Allah itu tidak ada/penting. Syukur itu pakem dalam Islam, karena itu syukur itu penting bukan karena mendapat nikmat atau tidak bersyukur karena sengsara, tapi syukur itu karena ingin rida Allah (Allah berkenan)," kata ulama ahli tafsir Al Quran, KH Bahauddin Nursalim (Gus Baha').

Oleh karena itu, kemenangan (Idul Fitri) sesungguhnya dalam ibadah puasa Ramadan dan musibah Covid-19 adalah "membersihkan" manusia secara lahir-batin untuk akhirnya meningkatkan rasa syukur, sebab ibadah atau musibah apapun itu karena "kehendak" Allah, sehingga sepantasnya manusia menyempurnakan kepatuhan kepada Allah. Ya, Idul Fitri adalah kembali suci/bersih atau kembali "new normal", seperti baru lahir di dunia.

Rasa syukur itu penting agar manusia tidak menyesal seperti kisah seorang tukang bangunan yang telah bertahun-tahun lamanya bekerja ikut pemborong, lalu bermaksud mengajukan pensiun. Si Pemborong pun berkata, "Saya setujui permohonan pensiun-mu dengan syarat kamu membangun dulu satu rumah terakhir.".

Akhirnya, si tukang bangunan segera membangunnya, ia pun mengerjakannya asal-asalan dan asal jadi. Setelah bangunan selesai, si pemborong pun berkata, "Rumah ini adalah hadiah untukmu, karena telah lama bekerja bersamaku.". Maka, tukang bangunan itu terkejut, ada rasa menyesal kenapa rumah itu dikerjakannya secara asal-asalan. Itu karena tukang bangunan itu masih memiliki "hati" yang kotor (lahir-batin).

Nah, ibadah, musibah, atau fakta apapun di dunia ini perlu disikapi seperti "rumah" yang sedang kita bangun untuk kita tempati nanti setelah pensiun dari kehidupan dunia. Jangan sampai kelak kita menyesal, karena kita menempati rumah yang kita bangun dengan kualitas asal-asalan. Karena itu, semuanya hendaknya dikembalikan kepada Allah, bukan karena sedang enak (harta/jabatan/kondisi fisik) atau tidak enak.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar....

(antara)