Sempatkah Kita Berpikir dan Berdoa untuk Orang Tua

Sempatkah Kita Berpikir dan Berdoa untuk Orang Tua
Ilustrasi/Net

SELAMA bulan Ramadlan ini kita berpikir keras bagaimana kita bisa tetap hidup bahagia di tengah pandemi Covid ini. Kita pun sibuk berdoa untuk kita dan anak cucu kita. Bahkan lebih dari itu, banyak juga yang sibuk belanja baju baru untuk hari raya katanya. Satu pertanyaan kecil namun berdaya besar perlu kita jawab: "Adakah waktu selama bulan Ramadlan ini untuk berpikir tentang dan berdoa untuk kedua orang tua kita?

Pepohonan sesungguhnya tak begitu tersakiti karena dipotong dan ditebangi, karena itu memang takdir yang harus dijalaninya. Yang menyakitkan bagi pepohonan yang dipotong dan ditebangi itu adalah kenyataan bahwa bagian besar pegangan kapak pemotongnya adalah dari kayu pepohonan itu sendiri.

Anak yang menyakiti orang tuanya sendiri adalah mempersembahkan rasa sakit yang teramat mendalam bagi orang tuanya, rasa sakit yang melampaui semua jenis sakit yang ada di dunia ini. Muliakan orang tua kita, baik yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal. Jangan lupakan mendoakan mereka semoga menjadi kekasih-kekasih Allah.

Hasan Bashri berkata: "Makan malam bersama ibu yang menjadikan beliau bahagia adalah lebih baik dan lebih aku sukai dibandingkan dengan melaksanakan haji sunnat." Sempatkan menyapa orang tua kita dan tanyakan apa yang mereka butuhkan. Kalaupun jawaban standarnya adalah "sudah cukup dan kami tidak butuh apa-apa" namun jelilah untuk membaca apa yang mereka sukai.

Bagi kita yang orang tuanya sudah meninggal, jangan lupakan doa untuk mereka, menyambung tali persaudaraan dan kekeluargaan dengan orang yang dekat dengan orang tua kita, dan bersedah yang pahalanya diperuntukkan kepada orang tua kita. Salam, AIM, Pondok Pesantren Kota Alif Laam Miim Surabaya. [Inilahcom]