Baznas Kab Bandung Malah Tekor Pelihara Gedung Transmart Gading Tutuka

Baznas Kab Bandung Malah Tekor Pelihara Gedung Transmart Gading Tutuka

INILAH,Bandung- Baznas Kabupaten Bandung, setiap bulan harus merogoh kocek kurang lebih Rp 10 juta untuk biaya pengelolaan gedung Baznas di Jalan Raya Gading Tutuka Soreang.

Bagi hasil (sharing profit) dengan Transmart dari hasil penggunaan gedung tersebut yang difungsikan sebagai pasar modern itu tak membawa keuntungan apa apa bagi kedua belah pihak.

Ketua Baznas Kabupaten Bandung, Dudi Abdul Hadi mengatakan, rata rata penjualan di pasar modern milik Transmart di gedung milik Baznas Kabupaten Bandung itu terbilang sepi pembeli. Alhasil, sharing profit yang diperoleh Baznas pun relatif kecil. Maka tak heran jangankan bisa membukukan laba dari hasil usaha, untuk bayar listrik, bayar gaji pegawai pengelola gedung dan pengurus pun setiap bulan Baznas Kabupaten Bandung harus nombok Rp 10 juta.

"Pembagiannya kecil sekali yang kami peroleh, yah karena untuk mereka sendiri kelihatannya cukup berat. Setiap bulan bayar listrik saja sekitar Rp 15 juta. Jadi setiap bulan itu juga kami nombok untuk menutup biaya operasional gedung dan listrik itu sekitar Rp 10 juta," kata Hadi, Senin (25/5/2020).

Dikatakan Hadi, karena sistem sharing profit, semula pihak Transmart enggam untuk membayar listrik. Karena mereka menilai penggunaan listrik di gedung tersebut menyatu dengan ruangan dipergunakan oleh pihak lain yang sama sama mempati gedung tersebut.

"Dulu enggak mau bayar karena listriknya gelondongan. Nah kalau sekarang mereka bayar, tapi bayarnya per tiga bulan, jadi buat bayar listrik dan operasional lainnya kami harus pakai dana talangan dulu," ujarnya. 

Hadi melanjutkan, kata dia memang harus diakuo jika penjualan atau kunjungan konsumen ke Transmart di Jalan Raya Gading Tutuka itu relatif sepi. Sehingga, pihaknya tidak bisa terlalu menuntup pada managemen Transmart. Namun demikian, saat ini pihaknya tengah mengupayakan negosiasi ulang. Harapannya dari semula kerjsama dengan sistem sharing profit diubah menjadi sewa atau kontrak gedung saja. Seperti yang telah dilakukan dengan pengelola parkir, yang semula bagi hasil, kerjasamanya diubah menjadi sewa.

"Perjanjian kerjasamanya dengan Transmart itu 20 tahun. Tapi perjanjian ini bisa ditinjau ulang, kami inginnya sistem sewa saja lah. Soalnya kalau seperti sekarang cukup berat. Sebelumnya juga kami ada pihak ketiga yang ngurus gedung ini, cuma mundur karena cukup berat, mereka mundur karena enggak kuat bayar listriknya. Makanya sekarang pengelolaannya kami ambil alih lagi," katanya. 

Hadi berharap kedepannya pasar atau toko modern tersebut bisa lebih ramai dikunjungi oleh konsumen. Apalagi, disekitar gedung Baznas tersebut tengah di bangun Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Soreang.

Seperti diketahui, sejak 2018 lalu, Baznas Kabupaten Bandung menjalin kerjasama dengana managemen Transmart. Disepakati Transmart untuk menempati gedung milik Baznas untuk dipakai sebagai toko modern. Sistem bagi hasil atau sharing profit dari hasil penjualan di toko tersebut telah disepakati kedua belah pihak. Namun sayangnya, gedung empat lantai yang dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Bandung senila Rp 14 miliar yang bersumber dari dana CSR itu tak berjalan mulus. 

Alih alih mereguk keuntungan dari hasil gedung yang dikerjasamakan dengan Transmart, justru Baznas Kabupaten Bandung harus menanggung beban berat setiap bulannya. Padahal, dana CSR senilai Rp 14 miliar tersebut, sejatinya adalah hak masyarakat Kabupaten Bandung dari perusahan yang beroperasi di wilayah tersebut. Selain itu,  Rp 10 juta yang setiap bulan dikeluarkan oleh Baznas Kabupaten Bandung untuk biaya operasional gedung, alangkah baiknya jika digunakan oleh Baznas Kabupaten Bandung untuk menjangkau mustahik penerima manfaat zakat (mustahik) yang lebih luas.(rd dani r nugraha).