Rekor Baru, Pasien Sembuh Lebih Banyak dari Positif Baru

Rekor Baru, Pasien Sembuh Lebih Banyak dari Positif Baru

INILAH, Bandung – Sebuah rekor baru dibukukan Jawa Barat dalam perang melawan corona. Untuk pertama kalinya, pasien yang dinyatakan sembuh, lebih tinggi dbandingkan terpapar baru virus penyebab Covid-19 itu.

Selasa (26/5), berdasarkan data yang dilansir Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pusat, ada 26 pasien yang dinyatakan sembuh di Jawa Barat. Angka itu lebih tinggi dibandingkan 17 pasien yang baru dikonfirmasi positif.

Secara kumulatif, sejak rekor pencatatan pasien tertinggi, yakni 175 orang pada Rabu (20/5) lalu, tambahan positif baru di Jawa Barat terus menurun. Mulai dari 86 pada Kamis (22/5), 40 pada Jumat (22/5), 43 di hari Sabtu (23/5), 46 pada Minggu (24/4), lalu 22 pada Senin (25/5), dan kemarin menjadi hanya 17 kasus baru.

Pun dalam hal pasien sembuh. Seminggu terakhir, tercatat ada 94 pasien di Jawa Barat dinyatakan sembuh. Angka tertinggi adalah 39 pasien pada Sabtu (23/5) dan kemudian 26 pada Selasa (26/5).

Angka pasien sembuh ini, jauh di atas pasien Covid-19 yang meninggal. Dengan tambahan sembilan pasien pada Selasa (26/5), kini ada 137 orang pasien yang meninggal sejak Covid-19 melanda.

Adakah penurunan angka-angka pasien positif itu karena pelaksanaan pembatasan sosial berskala besar (PSBB)? Banyak pihak meyakininya. Angka itu, potensial lebih menurun jika saja warga Jawa Barat lebih bersabar di rumah dan otoritas bisa lebih tegas menegakkan regulasi.

Meski angka-angkanya menunjukkan gejala yang positif, Pemprov Jawa Barat belum merasa aman. Terlebih, saat ini sedang berlangsung arus mudik-balik seputar Idul Fitri.

Tingginya mobilitas warga dan banyaknya kerumunan yang terjadi di sejumlah daerah berpotensi meningkatkan penularan Covid-19. Pengetesan secara masif pun perlu dilakukan guna mempersempit ruang gerak SARS-CoV-2, virus penyebab Covid-19 dan mencegah gelombang kedua usai Idul Fitri. 

Gubernur Jabar Ridwan Kamil saat mengadakan gelar griya atau open house secara daring dari rumah dinasnya di Kota Bandung, Minggu (24/5), sudah menginstruksikan kepada para bupati/wali kota untuk kembali melaksanakan pengetesan Covid-19 secara masif. 

Wakil Sekretaris Gugus Tugas, Berli Hamdani, menyatakan, pengetesan Covid-19 dengan metode teknik reaksi rantai polimerase (polymerase chain reaction/PCR) atau tes swab akan secara intens dilakukan. 

Selain sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19, pengetesan masif akan mendapatkan peta persebaran Covid-19 yang komprehensif, melacak kontak terpapar, mendeteksi keberadaan virus, dan memastikan status pasien.

“Untuk antisipasi gelombang dua, kami sudah membuat kebijakan melakukan tes swab masif karena akurasinya yang lebih baik dan lebih spesifik deteksi Covid-19. Sudah lebih dari 15.000 alat tes swab didistribusikan ke kabupaten/kota. Penggunaan kami serahkan kepada kabupaten/kota masing-masing,” kata Berli, Selasa (26/5). 

Berli mengatakan, pendistribusian alat tes swab dan alat rapid test terus dilakukan Gugus Tugas meski jumlah alat tes yang disalurkan belum sesuai permintaan karena keterbatasan persediaan. 

“Terakhir kami menerima sekitar 30 ribu tes swab dan sudah langsung kami distribusikan. Hanya mungkin belum sesuai permintaan. Di samping itu juga, alat rapid test tetap kami distribusikan juga ke kabupaten/kota dan sampai dengan hari ini sudah lebih dari 120 ribu alat rapid test yang didistribusikan dan masih berlanjut,” katanya. 

Per Kamis (21/5), Gugus Tugas sudah menyebar 120.655 rapid diagnostic test (RDT) ke 27 kabupaten/kota, instansi pemerintah, dan institusi pendidikan di Jabar. Hasilnya, sebanyak 3.209 warga Jabar terindikasi positif Covid-19 atau reaktif. 

Sebagai tindak lanjut hasil tes cepat, Gugus Tugas menggelar tes swab bagi warga terindikasi positif Covid-19, dan 231 warga Jabar dinyatakan positif.

Dalam pengetesan Covid-19 secara masif, Gugus Tugas merujuk pola yang dilakukan Korea Selatan, yaitu mengetes 0,6% dari jumlah penduduknya atau 300 ribu penduduk Jabar. 

“Untuk mengejar target tersebut, kami melakukan pengadaan alat tes dari BTT (Belanja Tidak Terduga) Jabar yang dialokasikan untuk penanggulangan Covid-19. Bantuan alat tes dari sejumlah pihak pun terus mengalir, seperti dari BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana),” kata Berli. (jaka permana/ing)