Berat, Pola Pembelajaran 'New Normal' di Kabupaten Garut, Ini Kendalanya

Berat, Pola Pembelajaran 'New Normal' di Kabupaten Garut, Ini Kendalanya
Ilustrasi/Zainulmukhtar

INILAH, Garut- Kabupaten Garut dinyatakan masuk level dua atau zona biru terkait Covid-19. Sayangnya, sistem pembelajaran di sekolah pada masa 'New Normal' akan sulit berlangsung. 

Menurut Bupati Garut Rudy Gunawan, sulitnya penyelenggaraan pembelajaran di sekolah dengan tetap mengacu protokol kesehatan tersebut di Garut karena minimnya infrastuktur. Untuk penyelenggaraan belajar tingkat SD saja dengan jumlah peserta didik sebanyak 360.000 siswa maka dibutuhkan hampir sebanyak 7.000 ruang kelas.

"Kemarin, Pemkab Garut sudah membahas kemungkinan untuk melaksanakan pembelajaran di sekolah dengan tetap mengacu ada SOP protokol corona bahwa kita akan menyediakan tempat cuci tangan, vitamin, dan lain-lain. Tetapi untuk mempersiapkan itu terganjal tidak adanya ruangan kelas baru. Misalnya satu ruang ada 40 siswa, yang sebagian mau belajar di mana ?” kata Rudy usai Rapat Koordinasi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Garut, Rabu (27/5/2020).

Bukan hanya ruang kelas, kata Rudy, untuk penyediaan alat tempat cuci tangan pun, sekolah-sekolah mengalami kesulitan mendapatkan air.

"Tetapi bagi sebagian sekolah yang siap menyediakan empat komponen yang harus disiapkan menuju New Normal, itu bagus untuk persiapan apabila pembelajaran di sekolah diberlakukan. Maka, alternatifnya, kita menunggu arahan dari Kemendikbud saja, ” ujar Rudy.

Sebelumnya, publik dihebohkan dengan surat edaran Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Garut Totong bernomor 420/668-Disdik tentang Kesiapan Pembelajaran New Normal tertanggal 26 Mei 2020 ditujukan kepada Kepala SMP Negeri/Swasta dan Korwil Bidang Pendidikan se-Kabupaten Garut.

Beralasan menindaklanjuti instruksi Ketua Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Garut dan sesuai status Kabupaten Garut berdasarkan Gugus Tugas Provinsi Jabar bahwa Garut termasuk level 2 (biru) sehingga boleh melaksanakan aktivitas pembelajaran dengan memperhatikan protokol kesehatan menggunakan masker, cuci tangan, jarak tempat duduk, dan waktu jam belajar dibatasi. Maka, sekolah wajib menyediakan empat hal tersebut.

Satuan Pendidikan pun diharuskan membuat pernyataan kesiapan pengadaan sarana dan prasarana protokol kesehatan untuk pembelajaran New Normal.
Respon atas surat edaran yang beredar di salah satu grup WA guru dan ustaz pun beragam. Selain bertanya-tanya, bahkan ada yang merespon dengan memosting petikan berita kekhawatiran akan munculnya kluster baru akibat pembelajaran di sekolah yang terkesan terburu-buru itu.

Menanggapi polemik tersebut, Totong mengelah bila surat edaran sekadar pengecekan kesiapan satuan pendidikan dan pembenahan bila sewaktu-waktu Kemendikbud memberlakukan belajar di sekolah seiring pemberlakukan New Normal.

Karenanya, Totong pun meminta masyarakat agar tetap tenang sebab Disdik Garut masih memberlakukan pembelajaran anak didik dengan belajar mandiri dari rumah. "Saat ini, kita masih melakukan kajian. Keselamatan semua civitas yang ada di sekolah itu segala-galanya," ujarnya.(zainulmukhtar)