Ketika Warna-warni Paralayang Tak Lagi Hiasi Langit Puncak

Ketika Warna-warni Paralayang Tak Lagi Hiasi Langit Puncak
Foto: Reza Zurifwan

INILAH, Cisarua - Warna-warni parasut paralayang tidak lagi hiasi langit di Kawasan Puncak, Kabupaten Bogor. Pengunjung sepi gara-gara pandemi covid-19.

Sebanyak ratusan orang pelaku jasa wisata paralayang mulai dari master tandem, cadangan master tandem, tukang lipat parasut paralayang, supir angkot, tukang ojek dan pengusaha warung yang berusaha di tempat take off maupun landing ini sejak pertengahan Bulan Februari lalu tidak lagi memiliki penghasilan.

Sambil menunggu pandemic covid 19 berakhir, pelaku jasa wisata adrenalin ini kini hanya diam menunggu bantuan sosial karena apabila ingin beralih ke usaha lainnya pun tidak bisa berbuat banyak karena usaha - usaha lain juga ikut terdampak pandemic covid 19.

"Dampak dari pandemoc covid 19 besar sekali karena selain tidak bisa lagi melakukan jasa wisata paralayang, aktivitas di area take off maupun landing dilarang untuk mencegah penularan wabah virus corona," kata Ayat Supriyatna salah satu kordinator usaha jasa wisata paralayang kepada wartawan, Rabu (27/5).

 

Pria yang juga atlet cabang olahraga gantole dan rutin menyumbangkan medali emas untuk Kabupaten Bogor dan Provinsi Jawa Barat ini menerangkan bahwa para master tandem, cadangan master tandem, tukang lipat parasut paralayang, supir angkot, tukang ojek dan pengusaha warung kehilangan ratusan ribu hingga jutaan rupiah perhari.

 

"Kalau lagi rame wisatawan dan cuaca sedang bagus, tukang lipat parasut gantole, pemilik warung, tukang ojek dan supir angkot kehilangan puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah perhari, sedangkan kalau master tandem maupun cadangannya bisa kehilangan pendapatan ratusan  ribu hingga jutaan rupiah perhari. Namun setelah masa pandemic covid 19 atau pertengahan Bulan Februari kami tidak lagi punya penghasilan," terangnya.

Ayat menuturkan karena usia master tandem, cadangan master tandem dan tukang lipat parasut paralayang atau paraboy berusia muda dan umumnya belum berkeluarga, mereka pun tidak mendapatkan bantuan sosial.

"Kalau pemilik warung, tukang ojek maupun supir angkot mungkin dapat bantuan sosial, sedangkan master tandem, cadangan master tandem dan tukang lipat parasut paralayang atau paraboy itu tidak mendapatkan bantuan sosial. Untungnya sebelum lebaran atau Idul Fitri ada asosiasi dan donatur perorangan yang memikirkan nasib mereka," tutur Ayat.

Salah satu wisatawan nusantara bernama Maya Miranti mengaku cukup kecewa karena tidak bisa terbang paralayang di Kawasan Puncak, Kabupaten Bogor padahal dirinya sudah sejak lama ia ingin mencoba wisata adrenalin ini.

"Sebenarnya saya sudah lama pingin mencoba terbang paralayang di Kawasan Puncak ini karena kalau lihat di televisi rasanya sangat menantang dan menyenangkan bisa melihat keindahan Gunung Gede Pangrango dari langit, semoga pandemic covid 19 ini segera berakhir hingga saya bisa kembali mengunjungi Puncak, Kabupaten Bogor," tukas Maya. (Reza Zurifwan)