Pihak Sekolah Kutuk Perbuatan Cabul EP, Berharap Hukuman Seberat-beratnya

Pihak Sekolah Kutuk Perbuatan Cabul EP, Berharap Hukuman Seberat-beratnya

NILAH,Bandung- Pihak sekolah tempat korban pencabulan oleh oknum guru disebuah lembaga pendidikan di Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, mengutuk keras perbuatan tersangka EP (36). Pihak sekolah  berharap pelaku diberi hukuman setimpal dengan perbuatannya.

Pelaku selama ini bersembunyi di balik kedok statusnya sebagai guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dan seringkali menjadi imam salat berjamaah dan penceramah bagi para siswa.

Kepala Sekolah berinisial O mengatakan sebenarnya pihak sekolah yang pertama kali menguak kasus tersebut.

"Saya melihat korban terlihat berbeda, lebih murung dari biasanya sejak beberapa bulan terakhir," kata O saat dihubungi melalui telepon seluler, Rabu (27/5/2020).

Dikatakan O, korban memang bersifat lebih tertutup ketimbang siswa yang lain. Sifat itu dimaklumi oleh O karena korban mengalami trauma akibat perceraian orang tua.

Hal itulah yang dilansir O, membuat korban enggan bercerita kepada siapapun tentang masalah yang ia alami sejak empat tahun terakhir itu. Tidak terkecuali kepada kedua orang tuanya yang sudah berpisah.

Meskipun demikian, O secara pribadi terus berusaha untuk membujuk korban agar mau bercerita. Setelah tiga kali diajak berdialog, akhirnya korban pun mau menceritakan penderitaan yang ia alami selama empat tahun itu.

"Setelah korban mau bercerita, akhirnya kami melapor ke Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan perlindungan Anak Kabupaten Bandung. Dari sana korban disarankan untuk membuat laporan ke polisi," ujarnya.

Namun lanjut O, proses pelaporan ke polisi sempat terkendala karena pelapor harus didampingi oleh orang tua, bukan pihak sekolah. Akhirnya pihak sekolah bisa meyakinkan ibu dan ayah korban yang dipanggil secara terpisah, untuk mendampingi anak mereka membuat laporan polisi.

Pihak sekolah, kata O, juga merasa sangat dirugikan dan mengutuk perbuatan tersangka yang merupakan oknum guru senior di sekolah tersebut. Oleh karena itu pihak sekolah hanya akan berusaha untuk melindungi dan menyelamatkan korban dan anak didik lain di sekolah tersebut.

"Ke depan kami akan lebih selektif merekrut tenaga guru dan akan memperketat pengamanan termasuk menambah jumlah kamera CCTV. Soalnya kami sendiri tak pernah menyangka karena tersangka merupakan guru senior yang Mengajar PAI," katanya.

Diberitakan sebelumnya, EP (36) seorang guru di sebuah Madrasah Aliah (MA)  di Kecamatan Soreang Kabupaten Bandung digelandang Polisi karena diduga mencabuli salah seorang siswinya selama empat tahun. Guru tetap di madrasah tersebu mencabuli korban setelah sebelumnya diancam akan menyebarkan poto korban tanpa memakai kerudung. 

Kapolresta Bandung Kombespol Hendra Kurniawan mengatakan, kasus ini teurungkap setelah adanya laporan dari orang tua korban. Kepada orang tuanya korban AW (17) mengaku dicabuli oleh pelaku sejak empat tahun lalu atau saat korban masih berusia 14 tahun. Modusnya, pelaku meminta poto korban tanpa menggunakan kerudung. Ternyata permintaan tersebut adalah perangkap yang dipasang pelaku kepada korban.

"Di sekolah itu ada aturan jika ketahun tidak pakai hijab atau kerudung, maka siswa tersebut bakal kena hukuman. Nah poto tanpa hijab itu kemudian dipakai pelaku untuk mengancam korban agar mau dipoto tanpa busana. Ancaman ini terus berlanjut, pelaku mengajak korban untuk berhubungan badan dan jika menolak diancam poto poto bugil korban akan disebar di media sosial," kata Hendra di Mapoltesta Bandung, Soreang, (26/5/2020).

Perbuatan bejat pelaku ini, kata Hendra dilakukan sejak empat tahun atau saat korban masih berusia 14 tahun dan saat ini korban telah berusia 17. Perbuatan bejat pria yang telah beristri dengan dua orang anak itu dilakukannya di ruang seni sekolah dan juga rumah kontrakannya. Sampai sejauh ini memang pengakuan pelaku perbuatan tersebut hanya dilakukan kepada AW saja. Namun tidak menutup kemugkinan terdapat korban lainnya.

"Bisa saja ada korban lainnya, karena di ponsel dan komputer pelaku didapat banyak poto poto. Ini sedang kami dalami dan saya imbau pada orang tua siswa lainya untuk melakukan pendekatan pada anak anaknya untuk mencari informasi, karena bisa saja anaknya juga menjadi korban dari kebiadaban pelaku ini," ujarnya. (rd dani r nugraha).