Sikap Kami: Soal Kita Bukan Normalitas Baru

Sikap Kami: Soal Kita Bukan Normalitas Baru

PERSOALAN utama kita bukanlah pada apakah tatanan normal baru itu sebuah kebijakan pelonggaran, relaksasi, atau adaptasi. Masalah utama kita adalah bagaimana kita mematuhi dan menegakkan regulasi.

Begitulah pandangan kita terhadap apa yang disebut pemerintah sebagai penerapan new normal; normal baru, normalitas baru, atau tatanan normal baru. Buat kita, kebijakan atau aturan apapun yang diambil, sepanjang pelaksanaannya tak baik, ya tetap hasilnya tidak baik.

Kita beruntung, pelaksanaan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dua periode di Jabar (di beberapa kabupaten/kota bahkan sampai tiga periode), membuahkan hasil. Dalam seminggu terakhir, hanya ada 281 tambahan pasien positif baru. Rata-rata sehari 40 pasien. Angka reproduksi hanya 1,09.

Yang sembuh pun naik signifikan. Seminggu terakhir ada 130 pasien sembuh. Rata-rata sehari 18,5 orang. Dua hari terakhir, jumlah pasien sembuh bahkan lebih tinggi dibanding terpapar baru.

Padahal, kita dalam kenyataannya, tidak “sepenuh hati” menyelenggarakan PSBB. Tak percaya? Tengoklah titik-titik periksa (cek poin) selama PSBB, tak semuanya terkawal ketat petugas. Pada saat-saat tertentu, titik periksa itu bahkan kosong.

Tak melulu salah petugas. Salah masyarakat pun tiada sedikit. Pada ujung PSBB tahap pertama, pengemudi sepeda motor berboncengan bukanlah pandangan aneh buat kita di jalur-jalur yang memiliki titik periksa.

Betapa rendahnya kesadaran warga kita kian terbukti pada apa yang terjadi di Pasar Antri Cimahi –hanya untuk menyebut satu lokasi. Pasar diserbu warga hanya untuk persialan lebaran. Hal serupa terjadi di banyak tempat, dari Garut hingga Sukabumi.

Mau bukti lain? Simak pula informasi betapa banyak warga di kabupaten/kota di Jawa Barat yang tertahan tak bisa kembali ke Jakarta atau Bandung hari-hari ini. Mereka bisa menembus jalur mudik –kegiatan yang dilarang pemerintah tanpa memiliki izin resmi. Atau, lihat pula peristiwa di sekitaran Cileunyi, ketika seorang oknum polisi memaksa mudik dari Bandung ke Garut tanpa surat lengkap. Maknanya ada dua: warga kita begitu gemar melanggar aturan, di sisi lain penegakan regulasi juga demikian lemahnya.

Maka, itulah sebenarnya persoalan kita. Kita meyakini, jika warga patuh dan aturan bisa ditegakkan selurus mungkin, bisa jadi angka penambahan pasien Covid-19 di Jawa Barat kini sudah semakin turun.

Jadi, apapun istilahnya terhadap tatanan kehidupan normal baru ini; apakah pelonggaran, relaksasi, atau adaptasi, itu bukan pokok perkara penting. Yang terpenting adalah bagaimana kita menegakkan dan mematuhi aturan. (*)