Jejak Peninggalan Belanda Ditemukan di Cileungsi

Jejak Peninggalan Belanda Ditemukan di Cileungsi
Jejak Peninggalan Belanda Ditemukan di Cileungsi

INILAH, Bogor - Komunitas pecinta sejarah yaitu Bogor Historia membantu Balai Arkeologi Jawa Barat untuk melakukan rekonstruksi penemuan benda - benda bersejarah seperti uang koin Kerajaan Belanda, tusuk konde,  di Kampung Cigorowong, RT 01 RW 11 Desa dan Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor.

Rafiq, salah satu pengurus Bogor Historia mengatakan dalam pelaksanaan rekonstruksi penemuan benda - benda sejarah ini, tim dibagi dua yaitu tim rekonstruksi di lubang tempat penemuan dan tim pendataan lingkungan.

"Untuk tim rekonstruksi di lubang tempat penemuan fokus kerja tim mengukur lubang, barang apa yang ditemukan dan posisi awal ketika benda cagar budaya atau bersejarah itu ditemukan oleh Ustadz Raffi Al Muniri dan tukang gali septic tanknya," kata Rafiq kepada wartawan, Kamis (28/5).

Ia menambahkan untuk tim pendataan lingkungan bertugas mewawancarai warga asli sekitar tentang kondisi lingkungan tempat penemuan benda bersejarah tersebut.

"Setelah melakukan rekonstruksi penemuan benda bersejarah dan mendata kondisi lingkungan, maka baik bebda bersejarah maupun laporannya akan kami titipkan ke Polsek Cileungsi lalu dikirimkan ke Balai Arkeologi Jawa Barat," tambahnya

Ustadz Raffi Al Muniri yang ikut menemukan benda - bebda bersejarah dan kerangka tulang belulang manusia menjelaskan saat ditemukan posisi kepala berada di lubang yang nantinya berfungsi menjadi septic tank.

"Di lubang yang memiliki panjang 1 meter lebar 1,5 meter dan kedalaman 3,5 meter posisi kerangka kepala manusia ada di sisi barat, sementara posisi kaki berada di sisi timur. Pada bagian kerangka jari ditemukan cincin, sedangkan di bagian kepala ditemukan batu bata dan tusuk konde. Untuk besi seperti paku, pecahan cermim berbentuk bulat dan uang koint Kerajaan Belanda itu ada di sekitar badan, kepala maupun kaki," jelas Ustadz Raffi.

Pria yang merupakan alumni Universitas Djuanda Bogor ini memaparkan  bahwa tempat ditemukan barang bersejarah dan kerangka tulang belulang manusia dan sekitarnya dulunya merupakan tempat yang banyak larangannya.

"Dulu waktu kecil kita memang dilarang main ke sekitar lokasi penemuan benda bersejarah maupun kerangka tulang belulang manusia karena kata orang tua dulu ada Ular Cigorowong berukuran besar yang 'dikeramatkan' oleh warga sekitar," paparnya.

Senada dengan Ustadz Raffi, Neneknya yang bernama Mimin berusia 80an tahun juga menceritakan bahwa dirinya dan lainnya dilarang membuang sampah di sekitar lokasi penemuan karena adanya makam 'keramat'.

"Katanya orang tua saya disitu ada makam tokoh masyarakat namun kami tidak mengetahui atau diberitahu namanya, intinya kita tidak boleh membuang sampah di situ karena sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang telah meninggal dunia," tukas Mimin. (Reza Zurifwan)