Inilah Rancangan Skema Belajar di Kota Bogor di Normal Baru

Inilah Rancangan Skema Belajar di Kota Bogor di Normal Baru

INILAH, Bogor,- Pemkot Bogor menggodok usulan skema pembelajaran tahun ajaran baru 2020 di masa new normal atau tatanan normal baru. Rencananya pembelajaran akan dilaksanakan dengan sistem shifting, kantin sekolah tetap ditutup sementara, sementara jumlah siswa per kelas dibatasi 50 persen dan guru diatas 45 tahun mengajar secara digital dari rumahnya.

Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim mengatakan, hasil diskusi yang diolah dari berbagai informasi termasuk usulan-usulan dari pemerintah pusat, kira-kira untuk sektor pendidikan di tahun ajaran baru nanti ada semacam skenario untuk transisi. Enam minggu pertama harus shifting atau masuk bergantian.  "Mata pelajaran praktek olah raga kecuali teori, kantin sekolah dan panganan jajan untuk sementara ditiadakan atau ditutup," ungkap Dedie kepada INILAH pada Kamis (28/5/2020).

Dedie melanjutkan, termasuk usulan untuk guru diatas usia 45 tahun melakukan proses mengajar dari rumah secara digital. Hal lain seperti jumlah siswa per kelas yang dibatasi sampai 50 persen dan jam pelajaran yang hanya empat jam per hari, termasuk tiga hari kelas, dua hari daring dan seterusnya. "Jadi, masih banyak hal yang perlu dibahas secara berjenjang dari daerah sampai pusat," tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor Fahrudin mengatakan, bahwa sampai saat ini pelajar di Kota Bogor masih melakukan proses belajar dari rumah. Kegiatan belajar di rumah pun rencananya masih diperpanjang mengingat wilayah Kota Bogor masih dalam zona kuning penyebaran Covid-19.

"Belajar di rumah akan diperpanjang sampai kenaikan kelas kemudian dilanjutkan libur akhir tahun. Selanjutnya untuk mempersiapkam sekolah ketika sudah diperbolehkan melakukan proses belajar mengajar Dinas Pendidikan Kota Bogor akan melakukan rapar kordinasi. Hari ini kami akan membahas teknis jika saatnya masuk sekolah, yang pasti akan mengikuti protokol kesehatan Covid-19," tutur pria yang akrab disapa Fahmi.

Fahmi melanjutkan, intinya mengikuti protokol kesehatan saja, kalau mengikuti protokol kesehatan banyak yang harus dimodifikasi jumlah siswa yang masuk. Jam sekolah, persiapan guru, kesiapan kepala sekolah, kesiapan sarana dan prasarana. Pokoknya ikuti protokol Covid-19, mengunakan masker, jaga jarak atau berarti siswa tidak bisa dalam satu kelas jumlahnya lebih dari 20.

"Iya harus 50 persen dalam satu kelas. Jumlah siswa harus berada di bawah pantuan guru, jadi siswa datang SOP sepeti apa siswa pulang SOPnya gimana. Tugas guru itu mengajar, apa yang harus di persiapkan. Intinya siswa dan warga sekolah semua itu menjalankan protokol Kesehatan Covid-19 dalam pelaksanaan kegiatan di sekolah," tambahnya.

Fahmi menjelaskan, tanggal pasti mulai masuknya belum ditentukan. Kan perwali yah belum, nanti Disdik ikuti perwali atau kebijakan pimpinan. Tapi sudah persiapkan dari sekarang apa pun kebijakan pemerintah, yang penting bagaimana melindungi anak-anak dari Covid-19 dengan cara melaksanakan protokol kesehatan itu. Semua harus diadaptasikan atau tidak bisa normal seperti biasa, karena tidak setiap hari anak akan masuk sekolah.

"Hanya berapa persen yang bisa di tampung di sekolah kalau mengikuti protokol Covid-19. Nah, kalau surat edaran perpisahan kami melarang menggelar perpisahan karena mengumpulkan banyak orang. Baik tingkat  SD,bSMP maupun SMA.
Jadi lakukan saja sirahturami lewat zoom atau, lewat hal-hal yang tidak  melanggar protokol kesehatan. Yang paling yaitu bagaimana memastikan sekolah, guru dan tenaga pendidik dalam kondisi sehat," pungkasnya. (rizki mauludi)