Alhamdulillah, Tak Ada Lagi Kematian Akibat Covid-19 di Kota Bandung

Alhamdulillah, Tak Ada Lagi Kematian Akibat Covid-19 di Kota Bandung

KOTA Bandung mampu menunjukkan penanganan Coivid-19 lebih baik dibanding sejumlah kota besar lainnya. Saat Surabaya kian merajalela dan Jakarta tertatih-tatih, Kota Bandung mampu menahan kematian akibat Covid-19.  

Penerapan PSBB di Kota Bandung bisa juga dikatakan berhasil. Tak hanya mampu menahan laju penambahan yang cenderung landai, Kota Bandung juga mencatatkan tak ada lagi kematian dalam sebulan terakhir akibat Covid-19.

Data yang berhasil dihimpun dari covid19.bandung.go.id/data, Kamis (28/5) sudah hampir satu bulan atau tiga pekan lebih tidak ada kasus kematian akibat Covid-19.

Tercatat sejak Rabu 29 April 2020, kasus kematian akibat COVID-19 di Kota Bandung berjumlah 38 orang. Lalu hingga Rabu, 27 Mei 2020 pukul 20.02 WIB, tidak ada penambahan jumlah kasus kematian akibat COVID-19 seperti dilaporkan  dalam laman resmi Pusicov covid19.bandung.go.id/data.

Sejak tanggal yang sama pula, Rabu (29/4), jumlah pasien yang sembuh bertambah sebanyak 3 orang. Pada tanggal tersebut, jumlah pasien yang sembuh dari COVID-19 berjumlah 96 orang, dan hingga kini bertambah tiga orang menjadi 99 orang.

Selain itu, tercatat sudah ada sebanyak 302 kasus kumulatif orang yang dinyatakan positif COVID-19. Di luar jumlah pasien yang sembuh dan yang meninggal, saat ini 165 pasien positif COVID-19 masih menjalani perawatan atau isolasi mandiri.

Atas data tersebut, jumlah kesembuhan pasien positif COVID-19 di Kota Bandung lebih besar daripada jumlah kematian. Dari total keseluruhan kasus positif COVID-19, sebanyak 32,78 persen pasien dinyatakan sembuh, kemudian 54,56 persen pasien masih dirawat, dan 12,58 pasien meninggal dunia.

Kemudian di Kota Bandung sudah ada 3.746 orang yang dinyatakan sebagai orang dalam pemantauan (ODP). Namun 96,62 persen di antaranya sudah melewati fase tersebut dan dinyatakan selesai ODP.

Sekretaris Daerah (Sekda) yang juga Ketua Harian Gugus Tugas Covid-19 Kota Bandung Ema Sumarna, mengatakan sejauh ini di Kota Bandung berdasarkan catatan yang ia himpun, kenaikan jumlah pasien positif COVID-19 tidak melonjak secara signifikan.

Dia menilai saat ini kenaikan jumlah pasien positif COVID-19 cukup landai dibandingkan beberapa waktu lalu. Meski begitu, ia mengakui masih ada kenaikan grafik kasus COVID-19 dengan grafik yang belum datar.

"Kemarin misalnya 298 (positif), sekarang jadi sekitar 300, itu kan naiknya landai. Tidak misalkan dari 298, jadi 400, kan nggak begitu. Memang naik, belum datar banget. Tapi sudah mendekati ke datar, data hari ini," kata Ema, Rabu (27/5).

"Saya harapkan data terus begini dan segera menurun. Tapi kalau menurun, saya belum dapat data itu," tambahnya.

Lebih lanjut Ema menambahkan, terkait penerapan kenormalan baru, pihaknya memastikan masih mengaji pelaksanaan new normal atau kenormalan baru. Sampai saat ini belum ada keputusan apa pun terkait kenormalan baru yang diikuti dengan pelonggaran di sejumlah sektor.

Ema mengakui, wabah Covid-19 di Kota Bandung sudah mulai terkendali. Sehingga membuka peluang adanya relaksasi di sejumlah sektor. Namun saat ini masih diinventarisasi.
“Pedoman new normal ini masih kita pelajari. Memang pengendalian pandemi sudah cukup baik. Sehingga dimensi ekonomi, sosial, keagamaan bisa kembali bergerak. Ini tengah disiapkan," ucapnya.

Ema menuturkan, terkendalinya penanganan Covid-19 di Kota Bandung tidak terlepas dari peran Laboratorium Biosafety Level 2 (BSL-2) yang bekerja secara optimal sehingga Gugus Tugas dapat memantau dan pemetaan sebaran virus corona hingga tingkat kecamatan.

“Sekarang BSL-2 satu hari rata-rata 198 dari rata-rata 200, artinya sudah mendekati maksimal. Kemudian sekarang camat juga tahu mana yang ODP atau yang isolasi mandiri. Penanganan yang terpapar sudah dikelola dengan baik,” ujarnya.

Kendati demikian, Ema mengingatkan, pelonggaran tidak bisa berlangsung menyeluruh. Hanya ada beberapa sektor saja yang dilonggarkan dengan tetap mengutamakan protokol kesehatan.
Selain itu, pelonggaran ini perlu kesadaran tinggi dari masyarakat. Semisal memerhatikan physical distancing serta menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat. “Ya bertahap. Dalam kondisi seperti ini tidak mungkin tiba-tiba di angka 100 persen, maksimum di 60 persen. Tapi respon dan kesadaran masyarakat harus terbangun maksimal. Kalau kita kerja keras tetapi masyarakat tidak peduli, ya repot juga,” terangnya. (ghi)