New World After Covid-19 : Management For Education Institutions

New World After Covid-19 : Management For Education Institutions
Foto : Rektor Universitas Sangga Buana YPKP, Dr. H. Asep Effendi, SE., M.Si., PIA., CFrA., CRBC (Istimewa)

Dunia saat ini dikejutkan oleh kepungan virus yang diberi nama virus corona desease (Covid-19) yang diduga mulai mewabah sejak 15 Desember 2019 di Kota Wuhan, Tiongkok. Penyebarannya yang begitu cepat mengakibatkan seluruh aktivitas manusia di dunia harus mengikuti pola-pola baru, seperti social distancing, physical distancing, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, hingga proses keterasingan (alienasi) diri dari keramaian sosial. Pola tersebut seakan menjadi sebuah sistem yang digaungkan pemerintah sehingga mau tidak mau memaksa masyarakat harus melakukan setiap imbauan pemerintah guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di dunia, khususnya di tanah air ini.

Wabah virus tersebut pada kenyataan berdampak pada semua lini sektor, mulai kesehatan, ekomomi, politik, dan bahkan dunia pendidikan tak luput dari dampak penyebaran virus corona ini.

Tak hanya di Indonesia, di berbagai belahan dunia, pendidikan turut andil dalam upaya memutus rantai penyebaran pandemi Covid-19. Salah satu contohnya adalah melakukan aktivitas kegiatan belajar mengajar (KBM) dari sekolah ke rumah atau kediaman mahasiswa masing-masing dengan memanfaatkan teknologi daring (online). Jika dalam istilah para pekerja atau karyawan disebut Work From Home (WFH), maka di dunia pendidikan dikenal dengan istilah Learn From Home (LFH).

Bagi sebagian besar negara asing, metode pembelajaran daring ini menjadi hal yang lazim dilakukan termasuk juga di tanah air, terutama bagi perguruan tinggi yang bisa dikatakan rutin melakukan aktivitas pembelajaran melalui daring, mulai dari pemberian materi daring, tugas, dan saat ini perkuliahan pun menggunakan aplikasi seperti google meet , zoom, atau aplikasi lain yang sejenis.

Kendati terbiasa, bukan berarti pada prakteknya pembelajaran metode daring ini tidak mengalami permasalahan. Bagi sebagian pengajar, baik guru maupun dosen yang masih berkutat dengan sistem pengajaran konvensional, berbagai kendala bermunculan. Dari sudut pandang konvensional, guru atau dosen menganggap kegiatan pembelajaran itu adalah kegiatan transfer ilmu dari seorang pendidik kepada siswanya di ruang kelas.

Budaya tersebut tentunya masih mengakar kuat, bahkan mendarah daging dibenak para pengajar yang masih memegang teguh cara-cara konvensional. Padahal esesnsi pendidikan itu sendiri menilai atau memandang semua orang adalah guru, dan dimanapun berada adalah ruang belajar atau sekolah.

Di masa pandemi ini, metode daring seakan menjadi tantangan tersendiri tidak hanya bagi pengajar dengan metode konvensional, namun juga bagi orang yang saat ini nampak gegar budaya (culture shock) untuk bisa mengarahkan dan membimbing anaknya dalam melaksanakan learn from home selama pandemi Covid-19.

Kebiasaan orang tua yang melepaskan tanggung jawab pendidikan anak kepada lembaga pendidikan, tak ayal memunculkan sebuah anekdot yang menyebut sekolah tak jauh berbeda dengan penitipan anak.

Selain kendala yang dihadapi dari adanya pandemi Covid-19 ini, ada satu kekhawatiran penulis dari dampak pandemi Covid-19 di dunia khususnya bagi dunia pendidikan, yaitu dampak dari pasca pandemi Covid-19. Penulis menilai akan ada banyak perubahan, mulai dari aspek sumber daya manusia (SDM), pengembangan Information Technology (IT), metode pembelajaran, fisik bangunan, peningkatan kompetensi, pemerataan aksesibiltas, dan kemampuan beradaptasi.

Beberapa waktu lalu, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil berencana akan menerapkan tatanan normal (new normal) di Jawa Barat. Penerapan tersebut rencananya akan mulai diberlakukan pada, Senin 1 Juni 2020 mendatang. Pasalnya, kebijakan tersebut didasar kemampuan Pemrprov Jabar dalam mengendalikan pandemi Covid-19.

Emil sapaan akrabnya menyebut angka reproduksi (Rt) penyebaran Covid-19 di Jabar menyentuh angka 1,09. Mengacu pada standar organisasi kesehatan dunia (WHO), angka tersebut menganggap virus Covid-19 terkendali.

Dilansir dari jabar.inews.id, Emil mengungkapkan,  "Dalam standar WHO, angka itu bisa dianggap terkendali, makin kecil di nol, itu lebih baik. Kita akan fokus menjaga ini selama 14 hari ke depan," ucap Ridwan Kamil lewat keterangan tertulisnya, Kamis (28/5/2020).

"Kita sudah satu minggu rasionya di angka satu. Mudah-mudahan seminggu lagi tetap ada di angka satu, sehingga bisa dalam kategori terkendali," imbuh dia.

Dia menuturkan tempat perbelanjaan atau pertokoan harus menerapkan jaga jarak, penggunaan masker, dan cuci tangan selama penerapan new normal. Selain itu, jumlah kapasitas pengunjung pun harus dibatasi.

"Semua toko atau ekonomi harus bikin surat pernyataan bahwa dia siap mematuhi protokol baru di new normal dan siap diberi sanksi kalau melanggar. Intinya hanya terbagi dalam tiga, yaitu menjaga jarak, harus menjaga higienis yakni menggunakan masker, dan cuci tangan ketika keluar-masuk dari sebuah tempat," katanya.

Selain di tempat perbelanjaan, konsep new normal juga akan diterapkan di semua sektor, seperti lembaga pendidikan, rumah ibadah, dan industri. Nantinya TNI dan Polri akan menjaga tempat yang diterapkan new normal.

Pria disapa Kang Emil itu, menambahkan pihaknya sudah mulai sosialiasi dan edukasi terkait tatanan normal baru atau new normal di Jabar pada Rabu (28/5/2020). Dia pun mengajak media massa menyosialisasikan dan mengedukasi masyarakat terkait new normal tersebut.

Menurut dia, dengan sosialisasi yang komprehensif, pengendalian Covid-19 dan new normal dapat berjalan optimal.

"Jadi, saya minta kerja sama ke media selama empat atau lima hari ini kita fokus mengedukasi tentang tata cara normalitas baru itu. Sebab, (kondisi) terkendalinya Jawa Barat akan terganggu jika ada euforia dalam normalitas baru," katanya.

Dari pemaparan diatas disinggung pula terkait pendidikan, di dunia pendidikan tak sedikit pengajar yang kewalahan dalam melakukan metode pembelajaran baru ditengah pandemi virus corona. Maka dari itu, penulis tidak menyebut ini sebagai The New Normal saja, tapi New World After Covid-19, dan penulis lebih melihat sisi Management For Education Institutional After Covid-19. Jadi langkah seperti apa yang harus dilakukan guna mengantisipasi dampak perubahan tatanan dunia baru bagi dunia pendidikan.

Selain kendala pembelajaran dengan metode daring, seperti letak geografis bagi mereka yang tinggal di pedalaman akan sulit mendapat jangkauan jaringan, kemudian banyak kasus dalam proses pembelajaran daring, pengajar hanya bisa sebatas memberikan tugas. Hal tersebut terjadi karena pengajar sendiri tidak terbiasa dengan metode daring. Alhasil kualitas pendidik dan hasil dari didikannya dinilai masih dibawah rata-rata, karena adanya ketimpangan dalam proses pembelajarannya. Disatu sisi pengajar dianggap gagap teknologi yang berbanding terbalik dengan siswanya yang telah mampu menguasai dan mengimbangi perkembangan teknologi.

Selain skill yang kurang mumpuni, tidak adanya kejelasan tentang aturan kurikulum pendidikan di masa bencana atau korona ini menjadi faktor lain yang mengakibatkan kemunduran di dunia pendidikan. Banyak yang menilai bahwa kurikulum ini dianggap hal yang kurang penting sehingga sangat sedikit orang untuk memperhatikan. Padahal di Indonesia tidak hanya virus corona saja, namun negeri ini rawan akan bencana alam, diantaranya, gempa bumi, tsunami, dan meletusnya gunung api. Idealnya penerapan kurikulum di masa bencana ini seharusnya sudah menjadi hal yang biasa.

Jika melihat fakta di lapangan, penerapan kurikulum di masa bencana atau pandemi ini masih jauh dari harapan. Disatu sisi pengajar atau pendidik dibebani dengan adanya target kurikulum yang harus rampung, disisi lain mahasiswa atau siswa terbebani dengan berbagai tugas yang diberikan pengajar. Namun, lain halnya jika pemerintah menyiapkan kurikulum di masa pandemi atau masa bencana ini dengan matang, yang pada akhirnya pengajar akan memiliki acuan atau panduan dalam mengimplementasikan kurikulum tanpa kendala, misalnya pemilihan bahan ajar yang akan diberikan kepada mahasiswa atau murid, teknis dalam proses pembelajarannya seperti apa, dan bagaimana cara mengevaluasi hasil dari pembelajaran yang dilakukan di masa bencana.

Kembali ke persoalan inti dari tulisan ini, tentang bagaimana dunia pendidikan pasca pandemi Covid-19 ini?, New World After Covid-19 : Management for Educations Institutional menjadi satu hal yang sangat esensial untuk dikaji. Dampak dari learn from home dengan metode daring ini akan menjadi kebiasaan atau habbit, kendati pembelajaran dengan tatap muka kembali dilakukan. Dampak dari adanya pandemi Covid-19 ini tentunya meruabah tatanan budaya atau kebiasaan. Alhasil sistem atau metode pembelajaran secara terpaksa harus bertransformasi dari metode konvensional ke IT atau digital secara cepat. Artinya metode pembelajaran digital di negeri ini harus bisa diikuti dengan cepat agar proses pembelajaran bisa dilakukan dengan baik. Mau tidak mau, suka tidak suka, baik pengajar atau murid dituntut harus melek teknologi, dan pemerintah sebagai regulator dalam hal ini harus siap menyediakan dan memfasilitasi berbagai hal yang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara merata guna mencegah terjadinya kesenjangan kualitas pendidikan di tanah air.

Tak hanya dari hal-hal yang bersifat teknis dalam penyelenggaraan pendidikan pasca pandemi ini, pemikiran atau mindset setiap orang pun turut bergeser, hal-hal yang bersifat praktis dan instan cenderung menjadi pillihan utama. Artinya efisiensi dan efektivitas dalam pelaksanaan pembelajaran pun akan menjadi pillihan baik pengajar maupun siswa, misal mahasiswa atau dosen akan lebih memilih melakukan pembelajaran di rumah ketimbang harus melakukan pembelajaran secara langsung, maksudnya mahasiswa atau dosen pengajar akan lebih baik membeli kuota dengan jangka waktu satu bulan daripada membeli bahan bakar kendaraan yang hanya bisa digunakan untuk dua atau tiga hari.

Pasca penerapan New World After Covid-19 ini, akan ada banyak perubahan dalam tatanan kehidupan, utamanya bagi dunia pendidikan. Pendidikan harus menyiapkan strategiatau pola-pola yang baru dimana pola tersebut menjadi sebuah sistem yang wajib diikuti semua pihak yang berjibaku didalamnya, kenapa ?, esensi yang paling mendasar, jika tidak dilakukan atau lambat dalam beradaptasi dengan era teknologi yang cepat seperti saat ini, bukannya tidak mungkin peran mereka akan diganti dengan teknologi.

Permasalahan lain sebagai dampak dari pandemi Covid-19 bagi dunia pendidikan adalah adanya gesekan yang terjadi di lapangan, akibat jatuhnya kondisi perekonomian rakyat, secara otomatis kemampuan masyarakat untuk membayar atau membiayai pendidikan juga menjadi beban yang sangat berat. Hal ini tentunya menjadi ‘PR’ bagi penyelenggara pendidikan untuk memberikan kebijakan keringanan biaya pendidikan, terutama di perguruan tinggi yang tentunya bisa mencapai puluhan juta.

Menyikapi hal tersebut, pemangku kebijakan dalam hal ini pemerintah sebagai perangkat negara, harus segera melakukan regulasi dan mendapat solusi yang tepat agar penyelenggaraan pendidikan bisa terus berjalan dan tidak ada mahasiswa yang putus kuliah hanya karena beban biaya yang berat pasca pandemi berakhir. Sesuai dengan amanah konstitusi yang tertuang dalam UUD NRI Tahun1945 Pasal 31 ayat (1) dan (2).  Dan juga dalam UU No. 39 Tahun 1999 Tentang HAM Pasal (12) “Setiap orang berhak atas perlindungan bagi pengembangan pribadinya, untuk memperoleh pendidikan, mencerdaskan dirinya, dan meningkatkan kualitas hidupnya agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa, bertanggung jawab, berakhlak mulia, bahagia, dan sejahtera sesuai dengan hak asasi manusia.”

Jika kita tarik benang merah dampak dari adanya pandemi Covid-19 terhadap dunia pendidikan, yaitu ancaman, tantangan, dan peluang yang semuanya berjalan secara bersamaan. Hanya tinggal bagaimana sinergitas antara pemerintah dan penyelenggara pendidikan bisa membuat strategi dan langkah yang tepat agar dalam penerapan New World After Covid-19 ini bisa diatasi terlebih tujuan dari adanya penyelenggaraan adalah untuk menciptakan generasi-generasi (output)  yang mampu membawa negara ini kearah yang lebih baik di masa mendatang.

Ada beberapa langkah yang bisa diterapkan oleh penyelenggara pendidikan, khususnya perguruan tinggi guna mengimbangi percepatan teknologi digital pasca pandemi Covid-19. Jika melihat dari sudut pandang atau perspektif dunia pendidikan, para ahli dunia pendidikan menyebut ini adalah era Education 4.0, karena ini merupakan implikasi dari revolusi industri 4.0, yang tidak hanya diterapkan dalam pembangunan fisik saja namun dalam hal ini terjadi dalam proses pembelajaran.

Langkah yang cepat dan nyata dalam mengimplementasikan era Education 4.0 bisa di respon dengan kreativitas, dimana setiap manusia bisa memanfaatkan berbagai keuntungan yang ada di dalamnya, seperti personalized learning, flexible education system, open sources contents, teknolgi digital itu sendiri dan bahkan global classroom dalam penerapan pembelajaran seumur hidup (lifelong learning) dengan tujuan memaksimalkan peran sebagai akademisi dengan lebih baik bagi masyarakat pada umumnya.

Penerapan pembelajaran daring atau e-learning dinilai bukan solusi yang tepat, metode tersebut bersifat terlalu memaksakan semua orang untuk melakukannya dikarena penyesuaian diri terhadap sebuah kondisi. Seharusnya ada langkah lanjutan dan penyempurnaan sebuah sistem agar mampu berjalan beriringan dengan era Education 4.0 dan pendidikan di Indonesia ini tidak tertinggal jauh. Ada sebuah konsep yang disebut blended learning dimana konsep pendidikan bisa dikombinasikan antara metode pembelajaran konvensional di ruang kelas dengan metode daring, sehingga pada waktunya tiba, era pendidikan betul-betul ada pada era Education 4.0.

Poin terpenting yang harus digaris bawahi agar dalam penyelenggaraan pendidikan di era Education 4.0 dapat diimbangi, diantaranya Sumber Daya Manusia (SDM) harus mampu menguasai teknologi digital itu sendiri. Artinya penyelenggara pendidikan perlu mengadakan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi IT.

Dikutip dari https://sevima.com/new-normal-pembelajaran-di-perguruan-tinggi-pasca-pandemi-covid-19/. Minimal ada 6 hal yang bisa diterapkan sebelum atau pada saat pembelajaran berbasis teknologi digital dilakukan, antara lain dosen dan mahasiswa harus meningkatkan keterampilan internet dan literasi komputer, Menentukan kembali capaian pembelajaran, dosen harus menjamin kesiapan (readiness) materi kuliah dengan perspektif, tentukan durasi setiap unit pembelajaran, asesmen dalam bentuk kuis dan tugas mandiri harus siap, dan kampus harus mempersiapkan infrastruktur dan bandwidth yang cukup.

Kedua, memanfaatkan tata kelola bangunan atau ruangan yang kurang produktif, misalnya bisa dialihfungsikan menjadi lahan usaha yang dapat menghasilkan pemasukan bagi kampus itu sendiri, tentunya dengan membuat kerjasama atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan investor agar bangunan tersebut menambah nilai tambah, baik dari sisi bisnis maupun implementasi atau praktek dari mahasiswa yang ingin terjun langung untuk berbisnis.

Ketiga, seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, metode pembelajaran yang dikembangkan dengan pola komunikasi yang efektif dan efisien dengan tujuan untuk meningkatkan softskill yang berkualitas kendati dalam proses pembelajarannya dalam kondisi di tengah pandemi Covid-19, namun output yang dihasilkan tetap unggul dan berkualitas.

Keempat, pola manajerial tentunya menjadi sebuah acuan atau patokan sebuah keberhasilan dalam penyelenggaraan pendidikan khususnya di perguruan tinggi. Poin pertama bisa menjadi pondasi ketika sistem mulai dibangun dengan standar kerja berbasis teknologi.

Kelima, dengan adanya transformasi sistem penyelenggaraan pembelajaran dan manajerial ke teknologi digital. Maka secara otomatis, peluang invenstor untuk bisa berinvestasi di kampus atau perguruan tinggi akan bergeser dan diarahkan ke sistem IT. Hal ini tentunya perlu dilakukan agar seluruh sistem bisa kompatibel dan beriringan dengan era Education 4.0.

Keenam, guna bisa terus survive dan bertahan di pasca memasuki New World After Covid-19 atau Education 4.0, perguruan tinggi harus memiliki usaha sampingan dengan menanamkan jiwa entreupeneurship di lingkungan kampus, serta memanfaatkan setiap peluang dan potensi yang ada, misalnya membuat unit UMKM, bekerjasama dengan perbankan, memanfaatkan potensi yang ada dilingkungan kampus, dan masih banyak yang lainnya.

Dari pemaparan berkaitan dengan New World After Covid-19, penulis teringat akan suatu kisah bersejarah dimasa lampau ketika sekelompok pemuda yang Allah Subhanahu wata’ala takdirkan tertidur hingga 309 tahun lamanya, kemudian dengan kekuasaan Nya, Allah pula yang membangunkan mereka setelah lebih dari tiga abad, mereka terbangun dan melihat seluruhnya telah berubah. Karena kebingungan mereka satu sama lain bertanya sudah berapa lama mereka tidur. Mereka kemudian keluar dari gua dan pergi ke kota untuk menyaksikan semuanya telah berubah total. Tak ada satupun orang yang mereka kenal. Namun, mereka menemukan satu perubahan yang mereka saksikan dan yakini, yakni orang-orang kini sudah banyak yang beriman, tak ada lagi pemimpin yang dzalim yang dahulu ingin mempersekusi mereka.

Begitulah Allah Swt Maha Kuasa atas segalanya. Tak ada raja yang terkuat di dunia ini dan semua akan menemui ajalnya masing-masing. Tinggallah Allah Swt sebagai Zat Yang Maha Kekal dan Abadi. Kisah ini sangat familiar di kalangan umat muslim dan di abadikan dalam kitab suci Al-Qur’an yang berbunyi :

Ingatlah ketika sekelompok pemuda masuk ke dalam gua, mereka berkata, “Wahai Rabb kami, karuniakanlah kami rahmat dari sisi-Mu dan sediakanlah kelurusan dalam urusan kami.” (QS. Al-Kahfi: 10).

Ada korelasi, yang mirip dengan yang terjadi saat ini, pandemi Covid-19 diibaratkan sebagai musuh yang dzalim, dan kita manusia seakan-akan tertidur sementara ketika ada kebijakan work from home (WFH). Kemudian terbangun dalam tatanan dunia baru. Dimana setiap manusia harus bisa beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan yang dianggap baru, serta sistem kehidupan ekonomi, sosial, budaya, termasuk didalamnya sistem pembelajaran dalam dunia pendidikan.
Mirip dengan kisah Ashabul Kahfi, manusia saat ini dihadapkan pada satu permasalahan bagaimana bisa bertahan hidup di era yang baru. Ada banyak strategi dan persiapan yang matang dari berbagai aspek agar bisa hidup beriringan dengan New World After Covid-19.

Selain persiapan stategi dan berbagai hal teknis lainnya yang akan menjadi bekal, sumber daya manusia (SDM) terutama generasi penerus, dalam hal ini pemuda sebagai pemeran utama yang akan menentukan berhasil tidaknya kemajuan sebuah bangsa dimasa mendatang. Begitu pun dalam kisah Ashabul Kahfi diperlihatkan sebagai para pemuda yang memiliki idealisme, keteguhan, dan semangat serta optimisme yang tinggi. Mengapa para pemuda beriman, Ashabul Kahfi ini begitu gigih melawan kedzaliman? Karena kedzoliman bisa merusak kehidupan masyarakat dan tidak bisa dibiarkan. Pada hakekatnya kegigihan Ashhabul Kahfi tidak bisa lepas dari potensi dan karakteristiknya yang embodied pada diri pemuda.

Pemuda adalah seseorang yang berada dalam usia pada kondisi yang terbaik dalam berbagai sisi, baik fisik maupun psikis. Saujana Hati (2017) mengemukakan bahwa secara umum pemuda identik dengan ciri khas sebagai berikut:

(1) Kemurnian idealisme.
(2) Kekuatan fisik.
(3) Kekuatan mental dan semangat.
(4) Penuh kreativitas dan inovasi.
(5) Keteguhan dalam memegang komitmen.
(6) Polos dan bebas kepentingan.
(7) Pembelajar yang berada dalam tahap mencari dan memperkaya pengalaman.

Rasulullah saw bersabda bahwa “Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada Hari Kiamat nanti sampai ia ditanya tentang empat perkara: tentang usianya untuk apa ia habiskan; tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan; tentang hartanya, dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan; dan tentang ilmunya apa yang telah ia amalkan darinya.” (HR. Turmudzi dan Ad Darimi). Usia pemuda dengan kekuatan dan kemampuan yang penuh memang harus dimanaj dengan baik dan penuh tanggung jawab. Jika tidak, pemuda akan menjumpai penyesalan di kemudian hari.

Dengan adanya tulisan ini semoga ada sebuah pembelajaran yang mampu memberikan inspirasi dan motivasi bagi setiap manusia khususnya para generasi penerus dalam menghadapi New World After Covid-19, sehingga mampu beradaptasi dan mengimbangi setiap era baru yang datang.

Oleh : Dr. H. Asep Effendi, SE., M.Si., PIA., CFrA., CRBC
Rektor Universitas Sangga Buana YPKP