Sikap Kami: Maafkan Kami, Pak Habibie

Sikap Kami: Maafkan Kami, Pak Habibie

BARU saja terngiang-ngiang di telinga. Hanya dalam hitungan hari menjelang pergantian kabinet, Menko Perekonomian periode lalu, Darmin Nasution menyatakan 223 proyek strategis nasional (PSN) dan tiga program prioritas, fokus dikerjakan. Salah satunya pengembangan industri pesawat terbang, R80 yang dirancang Bachruddin Jusuf Habibie.

Enam bulan, kenyataan lain muncul. Pemerintah baru saja mencerabut mimpi-mimpi Habibie yang sampai dia bawa mati itu, dari PSN. Artinya, proyek tersebut, kini sepenuhnya menjadi tanggung jawab swasta, termasuk keluarga Habibie.

Ketika 37 tahun lalu dia kembali ke Indonesia, meninggalkan kariernya yang cemerlang di industri pesawat di Jerman, salah satu tujuan Rudy –begitu biasa dipanggil—adalah meningkatkan nilai tambah produk-produk nasional. Salah satu caranya, sebagaimana yang dia ungkapkan dalam buku-bukunya, menciptakan produk berteknologi tinggi.

Presiden Soeharto kala itu setuju dan mengakomodasinya. Itu sebabnya, selain sebagai menteri, Habibie mengepalai PTDI di Bandung dan PT PAL di Surabaya. Keduanya industri strategis. Sebagai industri strategis, tentu keuntungan bukan semata-mata jadi ukuran suksesnya.

Mimpinya sempat tersendat ketika krisis ekonomi terjadi pada 1997 dan atas tekanan IMF, proyek-proyek pesawat Habibie dihentikan. Tapi, Habibie tak patah arang. Setelah tak lagi jadi presiden, dia yang sudah melahirkan pesawat N-250, merancang R-80. Dia dirikan PT Regio Aviasi Industri (RAI) bersama putranya Ilham Akbar Habibie.

Pesawat dengan teknologi supermodern ini cocok untuk Indonesia yang negara kepulauan. Memuat 80 penumpang, sangat layak jadi penghubung antarpulau, antarkawasan terpencil. Kabarnya, sudah banyak pula negara yang memesannya.

Nyaris tak ada peran negara dalam proses awalnya. Negara baru beringsut saat memasukkannya ke PSN itu. Tapi, itu pun tak lama. Di tengah pandemi Covid-19, R-80 tercerabut dari PSN. Yang masuk justru produksi drone.

Buat kita, apa yang dilakukan pemerintah, adalah sebuah langkah mundur. Pesawat dan drone adalah dua entitas yang berbeda. Aneh buat kita kenapa industri sestrategis pesawat R-80 dimasukkan kemudian dikeluarkan lagi.

Tapi, satu yang kita yakini adalah dengan atau tanpa sentuhan pemerintah, R-80 akan tetap mengudara suatu ketika. Seperti tekad tim pesawat R80 (PTDI dan RAI) ketika Habibie pergi untuk selamanya. “Selamat jalan, Eyang… Istirahat yang tenang di atas sana. Kami akan lanjutkan #PesawatR80 #terbangkanpesawatindonesia untuk negeri tercinta,” kicau mereka. Maafkan kami, Pak Habibie. (*)