Kompor Hamilton Meledak, Pembalap F1 Kecam Pembunuhan Floyd

Kompor Hamilton Meledak, Pembalap F1 Kecam Pembunuhan Floyd

INILAH, London - Setelah "dikompori" Lewis Hamilton, pembalap Formula 1 ramai-ramai berkicau soal pembunuhan terhadap George Floyd di Amerika oleh polisi. Daniel Ricciardo dan Charles Leclerc jadi pembalap paling awal yang berkomentar.

Bicara melalui akun instagramnya, Lewis Hamilton mengkritik pelaku F1 karena tak bereaksi atas tindakan rasial yang dilakukan polisi di Minnesota, Amerika Serikat, terhadap George Floyd, seorang warga kulit hitam. Dia merasa dirinya sendirian melawan rasisme di motorsport dan mendesak rekan-rekannya untuk mendiamkan perbuatan melanggar hukum itu.

Lewis Hamilton termasuk salah satu yang menyatakan dukungannya terhadap aksi protes dan tagar #BlackLivesMatter melawan kesewenang-wenangan hukum yang rasialis menyusul pembunuhan George Floyd. Pembunuhan terjadi di Minnesota pada 25 Mei lalu.

Hanya dalam hitungan jam setelah juara dunia enam kali itu memposting pernyataannya, sejumlah pembalap menyatakan dukungan. Melalui media sosial, mereka berkicau untuk menyebarkan pesan-pesan anti rasisme itu.

"Melihat berita dalam beberapa hari ini membuat saya sedih. Apa yang terjadi pada George Floyd dan kelanjutan yang terjadi hari ini adalah hal yang mengecewakan," kicau Daniel Ricciardo.

Pembalap asal Australia itu menyatakan kini yang dibutuhkan adalah kesatuan. "Rasisme adalah racun dan perlu dilawan, bukan dengan kekerasan atau diam, tapi dengan persatuan dan aksi. Kita perlu berdiri, kita harus menjadi KITA. Mari lebih baik kawan. Ini 2020. Black lives matter," tulisnya.

Pembalap Ferrari, Charles Leclerc mengaku tidak nyaman dan tak pada tempatnya melontarkan pemikiran di media sosial. "Saya masih kesulitan menemukan kata-kata unuk menggambarkan kekejaman dari beberapa video yang saya lihat di internet," katanya.

Charles Leclerc menyatakan rasisme harus diatasi dengan tindakan, bukan diam. Dia mengimbau untuk berpartisipasi aktif, melibatkan, dan mendorong yang lain untuk menyebarkan kesadaran soal itu.

"Adalah tanggung jawab kita menentang ketidakadilan. Jangan diam," tegasnya.

Seperti Leclerc, pembalap asal Thailand, Alex Albon yang membela Red Bull, mengatakan dia awalnya ragu-ragu untuk mengekspresikan pandangannya. "Karena saya merasa tidak dalam posisi untuk berbicara," ujar Albon.

Dia mengaku tumbuh dengan cara yang istimewa, terlindung dari segala bentuk rasisme, apakah di sekolah, lingkungannya, atau di dunia balapan. Dia tak pernah mengalaminya sehingga tidak benar-benar tahu bagaimana harus mengungkapkannya.

"Tetapi saya menyadari, ini adalah bagian dari masalah. Diam tidak cukup dan semua orang semestinya bisa mengalami pengalaman bagaimana saya tumbuh," tambahnya.