Melamakan Sujud Saat Salat Berjemaah Sunah tapi..

Melamakan Sujud Saat Salat Berjemaah Sunah tapi..

SERING menyaksikan jemaah atau imam salat berjemaah melamakan sujudnya. Bagaimana hukumnya?

Melamakan sujud saat salat terkait anjuran untuk banyak berdoa kepada Allah. Dengan memperbanyak doa itu, sujud menjadi tampak lama. Anjuran ini tercatat dalam beberapa kitab hadis sebagai berikut: Artinya, "Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, "Momentum terdekat seorang hamba dan Tuhannya adalah ketika sujud. Oleh karena itu, perbanyaklah doa saat itu," (HR Muslim, Abu Dawud, An-Nasai).

Namun demikian, tindakan memperlama durasi sujud untuk diisi dengan banyak doa dipahami oleh ulama sebagai pemberlakuan pada saat salat sendiri atau salat sunah yang tidak disyariatkan berjemaah. Adapun pada salat berjemaah, imam dianjurkan untuk membaca surat-surat pendek Alquran dalam salat berjemaahnya dan tetap menyempurnakan rukuk, itidal, dan sujud melalui tumaninah serta bacaan yang dianjurkan sebagaimana lazimnya.

Keringanan salat ini dipesan oleh Rasulullah untuk mereka yang mengimami di tengah banyak orang yang memiliki beragam kondisi pribadinya, mulai dari orang tua, orang lemah, orang sakit, atau orang yang memiliki keperluan lain. Artinya, "Rasulullah SAW bersabda, Bila salah seorang kamu mengimami orang banyak hendaknya ia meringangkan karena di tengah jemaah terdapat orang dhaif, orang sakit, dan orang yang berhajat (orang lansia pada lain riwayat). Tetapi jika ia melakukan salat sendiri, bolehlah ia melamakan salat sesuai kehendaknya," (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud).

Pembahasan ini pernah diangkat oleh KHM Syafii Hadzami (Rais Syuriyah PBNU 1994-1999 M) dalam kumpulan fatwanya, Kitab Taudhihul Adillah, juz II, yang kami kutip sebagai berikut: "Memang sunah hukumnya melamakan sujud untuk berdoa di dalamnya karena sujud itu adalah suatu keadaan yang terdekat seorang hamba kepada Tuhannya, tetapi tidak ada takhshish yang menentukannya pada sujud yang terakhir," (KHM SyafiI Hadzami, Taudhihul Adillah, [Kudus, Menara Kudus: 1982 M], juz II, 134-135).

"Akan tetapi bagi imam suatu kaum yang tidak terbatas, atau yang terbatas yang tidak diketahui keridaan mereka untuk memanjangkan sembahyang, janganlah hendaknya imam melebihkan tasbih dalam sujudnya dari tiga kali, dan tidak sunah menambahkan doa-doa apapun juga, bahkan hendaklah diperingannya sembahyang itu, untuk meraikan makmum yang lemah, yang sakit, yang tua, dan orang-orang yang mempunyai keperluan atau kerja yang mesti diselesaikannya, maka dalam hal ini disunahkan bagi imam meringankan sembahyangnya," (KHM Syafii Hadzami, 1982 M: II/135).

Pengamalan untuk memperbanyak doa di waktu sujud agak problematik untuk dipraktikkan dalam salat berjemaah karena kondisi makmum berbeda-beda. Di samping itu, tidak semua makmum mengerti anjuran doa dan mengetahui bacaan doa apa saja sehingga dapat menimbulkan was-was di hati jemaah, baik diamalkan pada setiap sujud, sujud awal, maupun sujud terakhir. Rasulullah sendiri ketika mengimami memperhatikan jemaah yang menjadi makmumnya agar tidak salat dalam keadaan was-was karena imam melamakan salatnya atau salah satu bagian dari salatnya.

"Dari sahabat Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, Sungguh aku memasuki sebuah sembahyang, ingin melamakan sembahyang itu, tetapi aku mendengar tangisan anak kecil, lalu kuringankan sembahyang itu karena beratnya perasaan ibu mendengar tangis tersebut," (HR Bukhari dan Muslim). [nuol]