Sikap Kami: Mana Harun Masiku?

Sikap Kami: Mana Harun Masiku?

DALAM konteks buronan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Harun Masiku itu bukan siapa-siapa. Sama sekali tak punya modal untuk terus bersembunyi. Tapi, kenapa dia menyerupai hantu, tak terendus sama sekali?

Harun Masiku bukan satu-satunya buronan KPK. Bahkan juga tidak setelah Nurhadi dan menantunya Rezky Herbiyono diciduk di Simprug. Ada sederet nama lain. Dari Sjamsul Nursalim, Itjih Nursalim, Izil Azhar, Hiendra Soenjoto, hingga Samin Tan.

Harun tak layak disetarakan dengan Sjamsul, Itjih, atau Samin Tan. Nama-nama ini punya segalanya. Harta sangat berlimpah, sesuatu yang sangat memperdaya penegak hukum, hingga lokasi pelariannya di Singapura yang tak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Indonesia.

Lalu, kenapa Harun Masiku, tersangka kasus suap terhadap oknum KPU untuk perkara pergantian antarwaktu anggota DPR di PDI Perjuangan , begitu sulit ditangkap?

Sudah lima bulan dia menghilang. Bukan sekadar menghilang, tapi mencibir penegak hukum. Cibiran yang begitu menampar itu yakni saat dia bebas berlenggang kangkung pulang dari Singapura melalui Bandara Soekarno-Hatta. Se-Indonesia tertipu oleh calon anggota DPR dari Dapil Sumatera Selatan ini.

Apa yang membuat Harun sulit ditangkap? Dia tak punya modal sama sekali. Pelariannya pun hampir pasti tak sejauh Nazaruddin yang lari hingga ke Kolombia segala. Tapi, jika KPK pada eranya mampu meringkus Nazaruddin di Kolombia, kenapa pula KPK era sekarang gagal –bahkan hanya untuk sekadar-- mencium jejak Harun?

Semua kekuatan sudah dikerahkan untuk menangkapnya. Polisi seluruh Indonesia memasang fotonya sebagai buron. Tapi jangankan tertangkap, jejaknya pun tak tercium. Misterius bukan? 

Maka, melalui kolom kecil ini, kita tantanglah penyidik KPK yang jago-jago itu, termasuk juga aparat kepolisian yang ikut membantu mencari, untuk menemukan buronan kelas “bocah” yang tak ketemu-ketemu itu. Masa sih lima bulan mencari hasilnya “zonk” semua.

Kenapa kita tantang KPK dan juga petugas kepolisian? Maksud kita baik. Jangan sampai tak juga diketemukannya “buronan bocah” itu membuat publik terus menduga-duga –sesuatu yang tak bisa pula kita elakkan—bahwa ada perlakuan berbeda terhadap Harun Masiku dengan segala latar belakangnya, termasuk latar belakang politiknya. (*)