Sikap Kami: Di Atas Angin Lawan Corona

Sikap Kami: Di Atas Angin Lawan Corona

HARI-HARI ini, kita menyaksikan perkembangan positif dalam perjuangan melawan Covid-19. Kita melawan dan takkan pernah berteman. Perjuangan kita, membuahkan hasil yang membanggakan.

Tengoklah data yang dilansir Gugus Tugas Covid-19 Nasional, Rabu (3/6) ini. Hanya ada lima tambahan pasien positif baru. Tak sampai 1% tambahan pasien baru secara nasional. Lihat pula angka kesembuhan: 53. Artinya, hampir 11 kali lipat dibanding pasien positif baru.

Katakanlah itu data yang super-fluktuatif. Maklum, namanya data harian. Naik-turun jadi hal biasa, meski kita memastikan dalam beberapa hari terakhir terjadi penurunan pertumbuhan pasien baru.

Angka yang membuat kita relatif lebih percaya soal perjuangan melawan corona tidak sia-sia, ada pada reproduksi efektif (Rt). Meski mungkin naik-turun, tapi tak sedrastis data harian. Lihatlah, angka reproduksi kita kini tinggal 0,67.

Apa artinya? Jika sebelumnya satu pengidap virus corona menularkan kepada lebih dari satu orang, kini menjadi terbalik. Hampir dua pasien positif menularkan hanya kepada satu orang. Itu angka yang positif.

Jika tren itu bisa dipertahankan, maka sesungguhnya kita sedang menuju kemenangan melawan corona. Maksudnya, kita bisa membatasi persebaran dan mudah-mudahan pada satu titik menjadi hilang.

Patut kita berterima kasih kepada pihak-pihak yang terlibat dalam peperangan ini. Dari Gugus Tugas Covid-19 provinsi hingga kabupaten, tim medis yang berjuang sampai mengabaikan risiko, Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan kabupaten/kota dengan segala kebijakan dan keputusannya, tentu suja kepada masyarakat Jawa Barat, terutama yang mematuhi protokol kesehatan, apapun sistem penanganan kita.

Satu juga yang kita ingatkan, hiruk-pikuk dalam suasana seperti ini menjadi hal yang tak terhindarkan. Termasuk di antaranya persebaran bantuan sosial. Apalagi, faktanya, bansos melaju dengan perbedaan data antara pemerintah dengan berbagai tingkatannya. Semoga pemerintah bisa memperbaiki diri.

Kita di ambang kemenangan. Tapi kita belum menang. Yang jelas, kita mulai berada di atas angin. Kondisi ini harus kita manfaatkan. Ibarat tim sepak bola, menekan lawan tanpa melupakan pertahanan, tak mengabaikan kehati-hatian.

Itulah sikap yang harus kita jaga sebelum kita mendapatkan senjata pamungkas memenangkan perang. Apa senjata kita? Ditemukannya vaksin atau obat untuk mengatasi virus yang sudah membuat kita gundah selama tiga bulan terakhir ini. Sampai vaksin dan obat itu ditemukan, kita tetap menekan lawan dengan tingkat kewaspadaan yang sama sekali tak boleh dikendurkan. (*)