Istana Kepresidenan Terapkan Adaptasi Normal Baru

Istana Kepresidenan Terapkan Adaptasi Normal Baru
Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono (antara)

INILAH, Jakarta - Rencana penerapan tatanan normal baru di tengah pandemi Covid-19 terus dipersiapkan di sejumlah tempat, termasuk di lingkungan Istana Kepresidenan RI.

Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono dalam siaran pers di Jakarta, Kamis, menyampaikan sejumlah aspek mulai dari kegiatan harian hingga acara kenegaraan di Istana Kepresidenan kini disesuaikan dengan merujuk pada protokol kesehatan yang ketat.

"Yang pertama adalah kami lihat arahan Bapak Presiden bahwa kami memang sudah mulai harus melakukan kegiatan sehari-hari dengan melakukan new normal. Bagaimana kesiapannya? Untuk kesiapan Istana adalah semua, jadi mulai dari Bogor, Jakarta, Tampaksiring, Yogya, itu semua diperlakukan," ujar Heru Budi Hartono di kompleks Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Kamis.

Persiapan penerapan prosedur standar kenormalan baru untuk sarana tempat ibadah di Masjid Baiturrahim Istana Kepresidenan, kata Heru, telah ditinjau Presiden Joko Widodo, Kamis pagi. Nantinya, masjid hanya akan menampung 20 persen dari kapasitas maksimal. "Yang tadinya 750 jadi 150 (anggotra jemaah)," kata Heru.

Tak hanya itu, sejumlah prosedur juga nantinya akan diberlakukan sebagai standar baru. Misalnya, penempatan sabun atau hand sanitizer di beberapa titik untuk digunakan oleh jemaah sebelum berwudu dan memasuki masjid.

"Saya rasa dengan menggunakan konsep-konsep new normal ini kita bisa beribadah dengan nyaman," katanya.

Adaptasi kebiasaan baru juga diterapkan dalam kegiatan-kegiatan Presiden di Istana. Untuk acara pelantikan pejabat negara, misalnya, pejabat yang hadir dibatasi antara lima dan tujuh orang.

"Kemarin beberapa pelantikan, misalnya Kasal dan Kasau, tidak lebih dari lima undangan. Itu kegiatan resmi kenegaraan," kata Heru menandaskan.

Tak hanya itu, prosedur pengujian tes cepat COVID-19 bagi para tamu yang berkunjung ke Istana juga diberlakukan dan menjadi standar baru. Menurut dia, tes cepat tersebut sudah berlangsung selama 2—3 minggu tanpa ada keluhan.

"Secara tidak langsung bahwa itu kita sudah melakukan new normal. 'Kan awalnya tidak ada rapid (test), begitu juga pakai masker. Sekarang semua pakai masker. Pengemudi, baik itu pengemudi menteri maupun tamu Presiden, semua sudah pakai masker dan masing-masing menunggu di kendaraan masing-masing," katanya menjelaskan.

Selain pembatasan jumlah undangan atau tamu yang hadir, kata dia, pembatasan jarak antarorang pun diatur dalam acara yang dihadiri Presiden di Istana.

Di samping itu, upacara peringatan yang biasanya dilakukan secara langsung di lapangan pun kini bisa dilakukan secara virtual, misalnya upacara peringatan Hari Lahir Pancasila pada tanggal 1 Juni 2020.

Sementara itu, Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin dalam kesempatan yang sama mengatakan bahwa perubahan juga terjadi dalam hal peliputan acara-acara Presiden di Istana.

Misalnya, mengurangi jumlah wartawan yang hadir dalam acara Presiden dengan sistem streaming dan konsep TV pool serta foto pool. "Artinya, ya, memang dibatasi. Selain itu, juga kendaraan akan berkurang yang tadinya 10 (penumpang) jadi 5 (penumpang). Keharusan yang harus dijalankan, itu bagian dari protokol kesehatan," kata Bey. (antara)