Momentum Lebih Mengenal Diri

Momentum Lebih Mengenal Diri
ilustrasi

HARI raya kali ini membuka peluang kita untuk lebih mengenal diri kita. Saat kita berdeklarasi sebagai manusia yang kembali ke fitrah (kesucian), harusnya kita munculkan satu pertanyaan penting: "Benarkah kita sudah kembali pada fitrah? Apa ukurannya?" Tak banyaknya orang yang bertemu dengan kita di hari raya ini semakin menjadikan hari raya kita sebagai momentum terbaik untuk mengukur diri kita menurut diri kita, bukan menurut orang lain.

Biasanya, saat kita saling berkunjung dan bertemu ada saja penilaian orang kepada kita yang kita dengar. Bisa jadi penilaian itu yang membuat kita "mekar telinga," bahagia sampai ke ubun-ubun, sebagaimana juga bisa jadi membuat "merah telinga" kita sebagai wujud jengkel dan marah memuncak. Kita lupa bahwa penilaian orang tentang kita itu belum tentu benar. Yang tahu tentang kita sesungguhnya hanyalah Allah dan kita sendiri.

Penilaian orang lain tentang kita itu dipengaruhi oleh banyak faktor, faktor yang menjadikan penilaian itu subyektif, bias. Karena cinta, aib orang yang dicinta itu menjadi kelebihan dan keistimewaan yang dipuji-puji. Begitupun, karena benci maka kelebihan orang yang dibenci dianggap sebagai aib. Karena itu tak usahlah kita tamak dengan penilaian orang lain. Biasakan benar-benar cuma ingin penilaian terbaik dari Allah.

Nah, sekarang bagaimanakah cara kita menilai diri kita sendiri? Tiga ukuran utamanya adalah kebenaran, kebaikan dan keindahan. Selalu tanyakan: "Apakah yang kita telah, sedang dan akan lakukan itu benar, baik dan indah menurut Allah?" Nilailah sendiri, berhitunglah sendiri dan simpulkan sendiri. Jika jawabannya adalah "IYA" untuk tiga komponen itu, lanjutkanlah. Kita akan mulia di dunia dan akhirat kelak. Inilah yang disebut dengan muhasabah.

Perenungan diri seperti ini, tafakkur yang dilanjutkan dengan muhasabah dan mujahadah, sungguh besar pahalanya dan mencerahkan jalan hidup kita. Salam, AIM, PPK Alif Laam Miim Surabaya.  [KH Ahmad Imam Mawardi]