Sikap Kami: Bukan Elektabilitas, Tapi Apresiasi

Sikap Kami: Bukan Elektabilitas, Tapi Apresiasi

HASIL itu takkan jauh dari niat, proses, kerja keras, dan kerja cerdas. Kalau ada yang meleset dari itu, maka tentu ada yang disebut sebagai faktor nonteknis. Ada yang terpeleset, tapi tentu tidak banyak.

Gambaran tingkat apresiasi terhadap pemimpin-pemimpin daerah dalam menangani Covid-19 bisalah jadi contoh. Salah satunya, misalnya, ditunjukkan dari hasil survei yang dilakukan Indikator Politik.

Survei digelar 16-18 Mei dengan 1.200 responden. Toleransi kesalahannya plus-minus 2,9% dengan tingkat kepercayaan 95%. Tajuknya: Persepsi Publik terhadap Penanganan Covid-19, Kinerja Ekonomi dan Implikasi Politiknya. Tambahan toleransinya adalah jika yang tersurvei adalah kampret atau cebong.

Salah satu yang menggembirakan bagi kita, masyarakat Jawa Barat, adalah tingginya apresiasi terhadap Ridwan Kamil, selama pandemi Covid-19. Itu sebabnya, dia jadi pemetik tambahan elektoral tertinggi di banding tokoh politik lainnya. Hanya kalah dibanding pertumbuhan undecided voter.

Tingkat keterpilihannya, jika Pemilihan Presiden digelar pada 16-18 Mei itu, naik dua kali lipat. Dari 3,8 menjadi 7,7%. Kenaikannya lebih tinggi dari Ganjar Pranowo, apalagi dibanding Anies Baswedan yang menurut survei justru menurun.

Kinerja Ridwan Kamil, tentu besar juga peran bupati/wali kota, gugus tugas, pejabat lain, tim kesehatan, bahkan masyarakat di sana, cukup kinclong dalam penanganan Covid-19. Hingga kemarin, sepanjang Juni, hanya ada 110 penambahan kasus baru. Bandingkan dengan Jawa Timur dalam rentang waktu yang sama bertambah (1.026), DKI Jakarta (548), bahkan Jawa Tengah (198).

Tak hanya itu, Jawa Barat juga menurunkan tingkat penularan. Baru sekitar dua minggu lalu, tingkat penularan itu masih di atas angka 1 (artinya satu pasien menularkan ke satu orang), kini angkanya sudah mendekati 0,5.

Dari sisi kesehatan, kita melihat dua pasal sebagai penyebabnya: pelaksanaan pembatasan sosial berskala besar dalam rentang waktu lama dan masifnya tes yang dilakukan, baik tes cepat maupun swab. Keduanya dijalankan dengan harmonisasi tinggi di antara gubernur dengan bupati/wali kota. Bahwa ada riak-riak kecil, kalaupun ada, itu biasa.

Maka, dalam konteks hasil survei Indikator Politik itu, kita melihat itu utamanya bukan soal elektabilitas. Untuk apa menghitung elektabilitas sementara kontestasi demokrasi masih panjang. Kita memandang kenaikan angka-angka tersebut sebagai apresiasi atas kepemimpinan Ridwan Kamil dalam peperangan melawan virus corona di Jawa Barat. (*)