SiKasep, Solusi Mencari Rumah di Masa Pandemi

SiKasep, Solusi Mencari Rumah di Masa Pandemi
Foto-foto: Doni Ramdhani
SiKasep, Solusi Mencari Rumah di Masa Pandemi

INILAH, Bandung - “Mencari rumah itu melelahkan.” Begitulah komentar  Lavianti (45), saat menceritakan pengalamannya mencari rumah di penghujung 2019 silam.

Saat itu, Lavianti harus survei dari satu perumahan ke perumahan lainnya di wilayah Bandung Raya bersama putranya Essa (22), yang berniat membeli rumah. Karena putranya bekerja, maka mereka hanya bisa melakukan survei  pada akhir pekan atau hari libur saja.

Jarak perumahan yang dituju dengan tempat tinggal mereka di bilangan Dago Kota Bandung terbilang lumayan jauh. Tentu saja butuh waktu dan tenaga ekstra. Namun, hingga kerap kali survei mereka belum sepakat dengan rumah yang dijual di perumahan tersebut.

Letaknya ternyata jauh dari akses transportasi umum, kondisi rumah yang dibangun, hingga persoalan prosedur kredit pemilikan rumah (KPR) yang belum sesuai dengan harapan putranya yang baru bekerja kurang dari 2 tahun itu. Walhasil, rumah bersubsidi yang diidamkan putranya belum terealisasi hingga kini.

“Eh, malah sekarang ada pandemi Covid-19. Terpaksa, survei rumahnya ditunda,” kisah Lavianti.

Pencarian rumah pun dialihkan melalui situs milik pengembang maupun informasi perihal rumah bersubsidi di internet.

Toh, informasi yang didapat di dunia maya itu disebut Lavianti, kerap kali malah membikinnya bingung. Sebab, informasi yang didapatnya terkesan tidak lengkap seperti yang dibutuhkannya.

Hingga beberapa hari lalu, ada informasi tentang aplikasi SiKasep. Lavianti lantas mencari informasi lebih detil aplikasi sistem informasi KPR subsidi perumahan (SiKasep) yang dibuat Badan Layanan Umum Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan (PPDPP) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) ini.

SiKasep dianggapnya sudah pas dengan kebutuhannya yang bisa tetap mencari rumah tanpa perlu keluar rumah. Terlebih, pandemi Covid-19 yang diikuti aturan PSBB membuatnya tak lagi leluasa bermobilitas di luar rumah.

“Dengan SiKasep dimana lokasi dan tipe rumah, terus pengembangnya siapa bisa diketahui. Bahkan kita bisa memilih sendiri  bank penyalur KPR subsidi fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) dan bagaimana prosedurnya. Kita juga bisa memantau prosesnya. Tanpa perlu kita harus keluar rumah,” papar Lavianti.

Lavianti berkeyakinan pengembang yang ada di SiKasep telah berpengalaman, dengan legalitas serta kapabilitas yang tidak perlu diragukan lagi. Sehingga, rumah yang dibangun pengembang pun dipastikan memenuhi persyaratan standar yang ditetapkan Kementerian PUPR.

Mengutip laman PPDPP, per April 2020 ada 8.782 lokasi perumahan yang dibangun 5.987 pengembang dari anggota 19 asosiasi perumahan yang tercantum dalam SiKasep. Sementara, terdapat 37 bank pelaksana KPR subsidi FLPP yakni 10 bank nasional dan 27 bank pembangunan daerah baik konvensional maupun syariah.

“SiKasep dibuat supaya masyarakat bisa memilih rumah sendiri dengan proses yang transparan. Semua pengembang yang tergabung dalam SiKasep telah terdaftar di sistem registrasi pengembang, jadi masyarakat terhindar dari penipuan,” jamin Direktur Utama PPDPP Arief Sabaruddin kepada pers belum lama ini.

Jaminan serupa dilontarkan Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan Rakyat Seluruh Indonesia (AP2RSI) Ferry Sandiyana. Menurutnya, seluruh aspek legal pengembang yang tergabung dalam SiKasep telah memenuhi persyaratan.

Jadi, lanjut Ferry, aplikasi SiKasep benar-benar melindungi konsumen perumahan dari praktik penipuan pengembang yang tidak jelas.

“Mulai dari legalitas pengembang sampai mutu bangunan bisa dipertanggungjawabkan. Karena pengembang yang tergabung dalam SiKasep merupakan anggota asosiasi pengembang dan telah memenuhi persyaratan,” timpal Ferry kepada Inilah Koran, Minggu (7/6/2020).

Maraknya penipuan berkedok penjualan perumahan diakui Ferry berimbas pula terhadap pengembang. Masyarakat sedikit berkurang kepercayaannya terhadap pengembang.

Untuk itu, Ferry pun mengapresiasi hadirnya aplikasi SiKasep ini. Menurutnya, tidak cuma konsumen saja yang bisa merasakan manfaat dari SiKasep. Pihak pengembang pun, ikut merasakan dampak positifnya.

“Masyarakat jadi tahu mana pengembang yang punya legalitas. Dan, pengembang pun bisa memanfaatkan SiKasep sebagai media berpromosi efektif untuk kembali menggairahkan pasar perumahan bersubsidi  yang sedang drop terimbas pandemi Covid-19,” sebut Ferry.

Meningkatnya penjualan rumah tentunya berdampak positif terhadap berkurangnya angka backlog kepemilikan rumah. Sebagaimana yang tercantum di laman PPDPP, angka backlog secara nasional di tahun 2015 sebanyak 11.459.875 yang sebenarnya telah berkurang dibandingkan tahun 2010 yang sebanyak 13.495.446 unit.

Optimisme Ferry itu tidak berlebih bila menilik animo masyarakat yang telah mengakses SiKasep. Berdasarkan data di laman PPDPP, sejak diluncurkan 19 Desember 2019 lalu, peminat yang mengakses SiKasep per April 2020 tercatat ada sebanyak 170.782 pengguna terdaftar sebagai calon debitur.

Sebanyak 55.702 pengguna dinyatakan lolos subsidi checking, dan 54.266 masih dalam taraf verifikasi bank pelaksana. Ferry berharap SiKasep bisa lebih disosialisasikan supaya jumlah pengaksesnya pun lebih banyak lagi.

Secara terpisah, pemerhati teknologi informasi (TI) digital Nur Islami Javad menyatakan adanya aplikasi digital seperti SiKasep yang bisa diunduh melalui smartphone memang dibutuhkan. Sebab, kebiasaan masyarakat telah berubah di era pandemi Covid-19. mulai berubah perilaku dan kebiasaannya dari kebiasaan offline menjadi online.

Menurut Jeff, panggilan pria yang dikenal sebagai co-Founder/Chief Digital Start Up, E-Commerce, & Fintech (CDEF) Sharing Vision ini, ketika masa pandemi Covid-19, tren kebiasaan online tumbuh lebih dari 20 persen. Kondisi itu membuat proporsi antara mereka yang memiliki kebiasaan online dan offline kini sudah hampir seimbang.

“Sebelum pandemi Covid-19, kebiasaan online sudah mulai dilakukan. Misalnya, belanja online di e-commerce. Begitu ada pandemi Covid-19  perubahan kebiasaan dari offline ke online semakin cepat. Jauh lebih cepat dibandingkan yang diperkirakan,” kata Jeff ketika dihubungi Inilah Koran, Selasa (9/6/2020).

Kebiasaan online ini diperkirakan meningkat sekalipun telah diberlakukan new normal dengan protokol kesehatan yang ketat. Jeff berpendapat, platform aplikasi digital semakin dibutuhkan oleh masyarakat yang mulai terbiasa berkegiatan secara online.

Termasuk platform aplikasi e-commerce perumahan. Hanya saja, sebut Jeff, masyarakat tetap harus hati-hati dengan hanya memilih platform yang memiliki reputasi dan terpercaya untuk menghindari kemungkinan tertipu. SiKasep diyakini Jeff jadi platform bereputasi dan terpercaya yang banyak diakses sebagai aplikasi digital pencari rumah  bersubsidi.

Lavianti pun sependapat dengan Jeff.

“SiKasep solusi tepat mencari rumah, tanpa perlu keluar rumah. Semoga saja anak saya, bisa membeli rumah idamannya melalui SiKasep,” pungkas Lavianti. (doni ramdhani)