Responsif Lawan Corona

Responsif Lawan Corona
Ilustrasi (Istimewa)

PARA pejuang Covid-19 di Jawa Barat tak perlu risau menghadapi tahun ajaran baru. Terutama, bagi mereka di mana putranya harus masuk ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Ada jalur khusus buat putra-putri mereka. Di Kota Bogor, misalnya, ada 2% alokasi untuk putra-putri pejuang itu.

Bagaimana melihat hal tersebut? Sejujurnya, kita memandang itu sebagai kebijakan yang tak hanya inovatif, melainkan juga responsif dari Pemprov Jawa Barat dan kabupaten/kota. Dan, kebijakan-kebijakan semacam ini, alhamdulillah, kerap muncul di tengah kesulitan masyarakat saat pandemi Covid-19.

Pandemi membuat semua orang jadi susah. Tidak ada yang tidak merasakan itu. Kita beruntung, beragam kebijakan yang dikeluarkan pemerintah daerah, membesarkan hati. Utamanya adalah menunjukkan bahwa pemerintah daerah di tengah kesulitannya, ikut merasakan kesusahan-kesusahan warganya. Sejatinya, untuk itulah pemerintah ada dan dibutuhkan.

Banyak kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah daerah bermakna positif. Tanpa koar-koar. Tanpa gaduh antara satu dan lainnya. Kita melihat harmonisasi itu meski kita paham, kepala daerah di Jawa Barat, mulai dari gubernur hingga bupati dan wali kota punya bendera berbeda, dengan segala kepentingannya.

Kita melihat, saat dilakukan rapid test masif, semua bergerak. Saat ditambah tes PCR, semua ikut serta. Gerakan Jabar Bergerak, juga Gasibu, seberapa pun besar-kecil bantuannya, sangat berarti. Gerakan itu pula yang memicu dapur-dapur umum hingga ke tingkat RT/RW di berbagai daerah di Jawa Barat. Harus kita pandang itu sebagai hal yang positif.

Bisa jadi, itu sebabnya gerakan perang melawan Covid-19 –kita tetap dengan pandangan perang lawan Covid-19, bukan bersahabat—cukup berhasil. Secara persentase dengan jumlah penduduk, pengidap Covid-19 Jawa Barat paling kecil di Jawa, episentrum utama.

Rasio kesembuhan (39,29%) juga paling tinggi, setara dengan DKI Jakarta. Rasio penularannya yang sekitar 0,7% tak tertandingi di Jawa. Akhir-akhir ini pun kita melihat, pergerakan pasien baru menjadi sangat landai.

Bahwa dalam perang melawan Covid-19, ada persoalan-persoalan yang menyeruak, misalnya soal bansos, kita tidak menutup mata. Tapi, bukankah persoalan itu muncul dari pemerintah pusat hingga desa-desa?

Kita meyakini, di samping peran serta masyarakat dan Gugus Tugas Covid-19, maka kebijakan-kebijakan inovatif dan responsif pemerintah daerah –mulai dari Pemprov Jabar hingga Pemkab/Pemkot—adalah satu yang memperkuatnya. Dan, kita patut bersyukur atas semua itu. (*)