Mencari Kesimpulan Jalan Hidup Bahagia

Mencari Kesimpulan Jalan Hidup Bahagia

DIA sudah bersekolah di mana-mana, menyelesaikan berbagai tingkatan pendidikan sampai pada tingkat tertinggi. Tak cukup di situ, dia tambah pengetahuan dan skill dirinya dengan mengikut berbagai training dan workshop.

Semangatnya luar biasa. Saya acungi dua jempol. Namun, ada satu hal yang menarik perhatian saya dan mendorong saya untuk tahu apa penyebabnya. Dia sulit tersenyum dan wajahnya selalu tampak sedih tak beraura bahagia.

Dari sisi pekerjaan, dia terbilang lebih mujur dibandingkan banyak orang. Kesibukannya luar biasa, jarang ada di tempat, mobilitasnya tinggi. Dari sisi rumah tempat tinggal, dia terbilang memiliki rumah yang bisa dikatogorikan mewah. Lebih dari itu, dia sering menginap di hotel mewah dan sejenisnya. Jangan tanya saya tentang makanan yang dikonsumsinya. Tak perlu saya ulas. Namun mengapa dia terlihat jarang tersenyum dan tampak resah serta gelisah selalu? Ini yang membuat penasaran saya.

Akhirnya penasaran saya terjawab sedikit demi sedikit berkah obrolan saya dengan kiai kampung tempat asal dia belajar mengeja dan mengaji saat TK dan SD dulu. Kiai itu berkata melalui telpon: "Dunia ini penuh dengan keanehan ya. Orang pintar dan kaya tak mesti lebih tenang dibandingkan orang bodoh dan miskin."

Panjang kami berbincang sambil tertawa mengurutkan satu persatu keanehan dunia, termasuk tetangganya sendiri yang tak gelisah dengan wabah virus corona karena tak pernah tahu dan mendengar serta membacanya di berita-berita. Yang pusing kan yang sering update berita dan mengakses semua berita baik yang benar atau yang hoax.

Tibalah akhir cerita tentang dia yang saya kisahkan di atas. Beberapa hari lalu saat usai shalat hari raya menelpon sang kiai bertanya tentang kesimpulan hidup, apa yang sesungguhnya menyebabkan seseorang itu bahagia dan menderita dalam hidup ini. Dia mengaku terus dirundung gelisah, tak menemukan tenang, senang dan bahagia.

Sang kiai diam agak lama dalam teleponnya dengan saya. Saya ikut penasaran. Tapi saya tak berani menyuruh beliau segera melanjutkan jawaban dan kisahnya. Rupanya beliau lama terdiam karena hp nya ada gangguan, maklum hp lama. Lalu beliau berkata: "Jawabannya ada di QS 20 ayat 123 dan ayat 124. Renungkanlah itu."

Tak berhenti sampai di sini kisah sang kiai. Beliau jelaskan bagaimana wujud nyata kehidupan manusia yang benar-benar mengambil hikmah dari dua ayat tersebut. Luar biasa jawaban kiai kampung ini. Jangan hina kampung dengan selalu mengatakan "dasar kampungan." Salam hormat untuk kiai kampung, AIM. [Inilahcom]