Sikap Kami: Dagelan Sidang Novel

Sikap Kami: Dagelan Sidang Novel

TIBA-tiba Novel Baswedan disiram air keras. Tiba-tiba dua orang yang mengaku melakukan perbuatan itu, setelah dua tahun dicari.Tiba-tiba pula, keduanya dituntut hukuman setahun penjara.

Sejak awal, kebanyakan orang hipokrit dengan penanganan kasus ini. Sebagian menilai penanganannya tak serius. Ada yang lebih dahsyat, menduga ada keterlibatan orang penting. Tim Pencari Fakta (atau semacam itu) dibentuk. Hasilnya tak ada.

Tiba-tiba, muncul dua orang yang saat itu masih berstatus anggota Brimob. Mereka Ronny Bugis dan Rahmat Kadi Mahulette. Ada yang menyebut keduanya ditangkap, ada pula yang menyatakan menyerahkan diri. Yang jelas, keduanya jadi tersangka dan menjalani sidang.

Bahkan ketika disidang pun, tak banyak yang percaya keadilan yang hakiki akan tercapai. Tak sedikit fakta sidang yang diragukan publik, terutama pada frasa keduanya menyiram Novel dengan air keras yang membuat matanya nyaris buta, hanya karena sakit hati Novel merusak citra polisi. Entah citra apa yang telah dirusak Novel selama ini.

Ada yang menyebutkan proses pencarian keadilan ini bak dagelan saja. Kini, kesan itu makin kuat setelah jaksa penuntut umum menuntut pelaku hukuman penjara satu tahun. Pakai dakwaan subsider dari pasal 353 ayat (2) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Bukan dakwaan primer pasal 355.

Rasa-rasanya, dari sosiologi hukum, terlihat janggal alasan jaksa. Bagaimana mungkin seseorang yang datang dari jauh ke rumah Novel, membawa air keras, tak berniat dan menyiapkan melukai orang? Apalagi orang yang sudah dibenci (karena itu harus diberi pelajaran)?

Pasal 353 ayat (2) KUHP sendiri menyuratkan hukuman maksimal 7 tahun, tapi jaksa hanya menuntut 1 tahun. Rasa-rasanya, ini pun bisa mencederai keadilan yang sesungguhnya itu. Rasa keadilan bagi publik.

Jaksa tidak bisa memungkiri kesan publik, dirinya terlalu lemah dalam bertindak sebagai penuntut umum. Terlalu banyak hal-hal meringankan yang disebut jaksa, sementara yang memberatkan hanya karena merusak citra polisi. Padahal, begitu banyak hal-hal memberatkan karena tindak pidana yang dilakukan kedua terdakwa bukan hanya dilakukan terhadap Novel Baswedan, melainkan juga penegak hukum.

Maka, kita sependapat dengan banyak pernyataan orang, “dagelan” sidang di Pengadilan Negeri Jakarta ini hanya akan menambah menurunnya kepercayaan publik terhadap penegakan prinsip-prinsip dasar hukum. Dan, kita sangat menyesalkan hal itu terjadi (kembali). (*)