Dipaksa Masuk ke Dalam Gua Demi Keselamatan

Dipaksa Masuk ke Dalam Gua Demi Keselamatan
ilustrasi

KETIKA pranata sosial sudah porak poranda, moral tak lagi dijaga dan hukum sudah rusak, amburadul, tak mengikuti apa yang seharusnya, kemanakah kita harus pergi berlindung?

Marilah kita baca dan renungkan ayat berikut ini: "Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu." [QS. AL KAHF 18:16]

Iya betul. Ayat itu tentang ashabul kahfi, pemuda yang gelisah dengan rusaknya tauhid dan akhlak masyarakat. Allah perintahkan mereka untuk menjadikan gua sebagai tempat berlindung, lari dari gemerlapnya dunia yang menipu menuju gelapnya gua yang menentramkan. Gelap tidak selalu berkonotasi negatif sebagaimana terang tidak selalu berkonotasi positif. Gelap dan terang hakiki adalah urusan hati. Para prmuda ashhabul kahfi itu tunduk patuh dan tak merasa terpaksa masuk ke dalam gua.

Ketika hati senantiasa tunduk patuh kembali kepada Allah, tempat gelap pun tak menjadi masalah. Justru disanalah Allah menjanjikan rahmat dan anugerahNya. Masjid memang tidak segemerlap mall dan tempat maksiat yang berjejer di pinggir-pinggir jalan perkotaan. Pengajian memang tak berpanggung mewah seperti panggung kompetisi lagu-lagu dan prestasi duniawi. Tapi yakinlah bahwa masjid dan majelis pengajian sungguh menjadi "gua" yang akan menjadi locus yang dicinta dan disuka Allah.

Ashhabul kahfi pun menjad kisah tak usang oleh masa dan tak lekang oleh waktu. Keajaiban hidup diberikan kepada mereka. Hidupnya berada dalam jaminan dan perlindungan Allah. Pertanyaannya sekarang adalah sebesar apa cinta kita pada "gua" di saat gemerlap dunia membutakan banyak hati? Allah paksa kita kini masuk ke dalam "gua" dengan hadinya pandemi Corona. Kita dipaksa tak keluar kemana-mana demi selamat. Jadikanlah rumah kita sebagai tempat aktiftas yang menyelamatkan. Hiasi rumah kita dengan kegiatan yang disuka Allah dan disenangi Rasulullah Salam, AIM.[KH Ahmad Imam Mawardi]