Diskominfo Jabar Dorong Digitaliasai Sektor Agrikultur

Diskominfo Jabar Dorong Digitaliasai Sektor Agrikultur
Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Kadis Kominfo) Jawa Barat, Setiaji. (Istimewa)

INILAH, Bandung- Pandemi Covid-19 memunculkan resesi ekonomi yang membuat sejumlah masyarkat terpuruk secara finansial. Itu ditandai dengan berkurangnya produksi, melemahnya pendapatan, meroket atau merosotnya harga barang, dan bertambahnya pengangguran.

Digadang-gadang pertanian, peternakan, perikanan, pangan dan logistik sebagai 
sektor ekonomi yang tidak terdampak oleh pandemi covid-19. Karena itu mesti diperkuat. 

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat melalui Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) merasa perlu menggeber penguatan infrastrukur jaringan menuju revolusi industri 4.0 pada 2021 nanti. Hal tersebut menjadi salah satu upaya menguatkan perekonomian masyarakat.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Kadis Kominfo) Jawa Barat, Setiaji mengatakan, sejauh ini pihaknya sudah berupaya memberikan fasilitas dan menjembatani masyarakat agar dapat mengoptimalkan akses jaringan internet. Program Desa Digital salah satunya, yang dipercaya sebagai modal awal guna mewujudkan Jawa Barat Juara di pascapandemi. 

"Penguatan infastruktur jaringan diperkuat akses internet dan sebagainya di desa-desa yang butuh internet," ujar Setiaji, Minggu (14/6/2020).

Menurut dia, upaya tersebut akan memberikan dampak yang nyata bagi kemajuan Provinsi Jabar. Terlebih, pendekatan pihaknya pun akan terus mendorong internet of things (Iot), khususnya di sektor pertanian, peternakan, perikanan, pangan dan logistik. 

"Kita bisa meningkatkan pertanian yang tadinya manual, untuk mengetahui kadar hara tanah, atau membutuhkan air berapa banyak, nah dengan teknologi kan bisa dipasang itu," kata dia.

Setiaji mengaku, saat ini pun telah bekerjasama dengan starup di bidang pertanian dan perkebunan untuk memaksimalkan potensi melalui IoT pada salah satu perkebunan di Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Dengan enam parameter teknologi tersebut, hasil produksi bisa lebih optimal dari segi kualitas dan kuantitas. 

"Bahkan (teknologi) ini juga bisa melihat perkiraan hujan kapan, sehingga bila hujan ya tidak usah disiram," katanya.

Menurut dia, peningkatan skill teknilogi di ranah agrikultur sebagai tulang punggung ekonomi masyarakat dewasa ini sangat dibutuhkan. Itu untuk merealisasikan Jawa barat menjadi produsen yang unggul, baik itu pada komoditi perkebunan, pertanian juga perikanan. 

"Hasilnya juga banyak mulai dari pengurangan modal. Artinya kalau tadinya modalnya seratus bisa modal sepertiganya," ungkapnya. 

Kendati demikian, Setiaji tak menampik memiliki tantangan besar untuk menyebarkan gerakan digitalisasi kepada para pelaku pertanian, perkebunan maupun perikanan. Di mana mereka memilih tetap mengandalkan metode konservatif lantaran belum memahami kemudahan yang ditawarkan sistem digitalisasi. 

"Bukan hanya di pertanian, tapi di perikanan juga sama. Mereka itu mengira akan menambah biaya," ungkapnya.

Karena itu, dia melanjutkan, yang pertama kali dilakukan yaitu berusaha penuh agar para petani dan nelayan tidak merasa terbebani secara biaya ketika merubah metode ke arah 4.0.

"Jangan langsung kita kasih solusi dan mereka langsung beli. Justru kita ujicoba nanti mereka merasakan manfaatnya sendiri kan setelah hasilnya meningkat. Kalau hasilnya meningkat kan nanti ada dana yang bisa dialihkan ke teknologi tadi," pungkasnya. (riantonurdiansyah/inforial diskominfo jabar)