Dialog Manusia Tentang Uang dan Kebahagian

Dialog Manusia Tentang Uang dan Kebahagian
ilustrasi

KALI ini mari kita mengambil hikmah dari dialog orang miskin. Belajar dari orang miskin dan menderita kadangkala menjadi hal yang perlu dilakukan karena kalimat-kalimatnya biasanya murni dari hati nuraninya tanpa polesan dan motif atau kepentingan.

Tak akan saya sebut nama dan lokasi dialog yang akan saya critakan berikut ini. Biarlah itu menjadi pengetahuan saya saja. Karena yang penting bukan siapa yang bicara melainkan apa konten dan nilai yang dibicarakan.

Mungkin karena keterjepitan ekonomi, sepasang suami istri ini cekcok tak kunjung usai. Sesungguhnya cekcoknya tak begitu besar, tapi cukup lama membara bagai api dalam sekam. Terdengar sayup-sayup sang suami berkata: "Istriku, kita tak boleh kalah sama uang. Jangan sampai uang membingungkan kita dan membuat kita bertengkar. Kita dan semua manusia itu lebih tinggi dari uang. Manusia diciptakan Allah, sementara uang diciptakan manusia. Jangan sampai ciptaan manusia mengalahkan ciptaan Tuhan."

Mendengar filsafat ekonomi sang suami, si isteri menundukkan kepala, merenung dan berpikir. Lalu dengan suara lirih menjawab: "Engkau benar. Namun mengapa kerongkongan kita kering dan perut kita lapar serta kaki tak kuat melangkah kemana-mana karena kita tak punya uang. Masih bisakah diselesaikan dengan kalimat bijakmu? Kita butuh uang, bukan untaian kata." Lama sekali sang suami terdiam lalu berkata: "Para guru kehidupan sepakat sayangku bahwa uang bukan segalanya dan uang tidak bisa membeli segalanya."

"Benar suamiku, uang tidak bisa membeli segalanya. Tapi beras dan lauk pauk untuk hidup kita harus dibeli dengan uang," sambung sang isteri. Sang suami melongo tak percaya akan kemampuan sang isteri menanggapi ujarannya. Agak naik juga tensi darah sang suami, suaranya agak tinggi saat dia berkata lagi: "Allah membagi senyum dan tangisan itu adil. Jangan mengeluh terus. Bukankah kita masih sempat tersenyum sebagaimana orang punya uang juga tersenyum? Bukankah orang yang punya uang juga pernah menangis sebagaimana kita menangis?"

Sang suami menyangka bahwa isterinya tak mungkin lagi membantah kata-katanya. Ternyata dia masih menjawab: "Benar bahwa senyum dan tangis itu dibagi pada semua orang. Namun, menangis di dalam mobil itu tak semenderita menangis di atas sepeda, Mas." Waduh, suaminya sebenarnya masih marah namun juga sempat tersenyum mencerna logika sang isteri yang luar biasa unik tak disangka itu.

Lalu sang suami menjawab: "Terbukti sekarang bahwa semakin lapar seseorang maka semakin pandai mengolah kata dan semakin cerdas berpikir. Namun, istriku, ketahuilah bahwa menangis di atas sepeda itu lebih cepat selesainya, karena angin membantu menghapuskan air mata dari pipi kita."

Keduanya lalu tertawa dan saling merangkul. Berjalanlah mereka ke dapur mencari apa yang bisa dimasak dan dimakan. Tak lama kemudian, ada yang mengucapkan salam di teras rumah. Ternyata Pak Haji Mat Kelor dengan isterinya berkunjung untuk berbagi bantuan sosial. Entah apa saja isi karung yang dibagikan itu.

Yang menarik adalah apa yang disampaikan Mat Kelor: "Aku dan istriku pernah lebih miskin dan menderita darimu. Aku sempat ingin ceraikan isteriku yang aku tuduh sebagai penyebab miskin dan pembawa sial. Isteriku juga ingin menggugat cerai aku karena dianggap tidak cakap dan layak sebagai suami yang bertanggung jawab. Namun, semua itu adalah dugaan yang salah."

Mat Kelor lalu menepuk pundak isterinya dengan penuh bangga sambil berkata: "Tanyakan ini sama isteriku. Apa yang kami lakukan untuk mengubah nasib. Tak banyak dan tak sulit. Cuma ada 3 hal yang harus kamu istiqamahkan. Aku yakin kamu bisa lebih dari keadaan kami saat ini. Kamu tahu kan bahwa saya dulu sangat menderita? Sekarang sudah bisa tiap tahun naik haji. Kecuali tahun ini karena ada wabah Corona lalu dilarang haji. Kapan-kapan datang ke rumah ya. Saya akan sampaikan tiga rahasia itu." Mat Kelor can isteri lalu pergi untuk menyebarkan karung-karung yang dibawanya. Salam, AIM. [KH Ahmad Imam Mawardi]