Sekda Kota Bogor Istirahat Dulu, Satu ASN Kembali Positif

Sekda Kota Bogor Istirahat Dulu, Satu ASN Kembali Positif
Foto: Rizki Mauludi

INILAH, Bogor - Wali Kota Bogor Bima Arya menyarankan Sekretaris Daerah Kota Bogor Ade Sarip Hidayat untuk beristirahat beberapa hari setelah dinyatakan hasil swab tes PCR negatif akhir pekan kemarin. 

“Ya, Pak Sekda hasilnya negatif, tapi tunggu dahulu beberapa hari ke depan. Pak sekda istirahat dahulu. Kalau sudah sehat, kembali lagi. Tidak ada Plt,” ungkap Bima kepada INILAH, Senin (15/6).

Menurut Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim setelah hasil swab tes PCR negatif, Sekda bisa langsung beraktivitas kembali. Tetapi, Ade Sarip baru menerima pemberitahuan resmi Senin (15/6) ini.

“Ya, mungkin baru hari ini beliau mendapatkan pemberitahuan secara resmi. Mungkin besok beliau sudah mulai masuk,” ungkap Dedie.

Dedie melanjutkan, selain Sekda Ade Sarip, ada juga Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Bogor Taufik dan Asisten Administrasi Umum Erna Hermawati sudah negatif. Tapi hari ini ada hasil yang masuk lagi dua atau tiga dari ASN.

“Ada lagi satu ASN yang positif. Ini artinya dengan adanya penambahan ini akan ada lagi orang dalam pemantauan (ODP) di lingkungan Pemkot Bogor. Kami tengah telusuri siapa saja yang interaksi dengan ASN ini,” tuturnya.

Dedie menegaskan, Senin ada penambahan tiga pasien Covid-19 yang terhubung dengan rumah sakit. Karena itu, dia meminta mereka yang secara rutin ke rumah sakit harus diwaspadai semua.

“Kami sangat perlu melakukan asesment kepada rumah sakit-rumah sakit rujukan Covid-19. SOP, fasilitas kesehatan, dan sarana prasarana kesehatan harus terpenuhi sesuai protokol kesehatan,” katanya.

Dia pun menyamapikan sudah koordinasi dengan Pemprov dan Dinkes Jawa Barat untuk mengasesement ulang rumah sakit yang menerima pasien diduga Covid-19. “Harus memenuhi beberapa hal menuju rujukan Covid-19, misal mempunyai hevafilter untuk virus yang berterbangan di ruangan bisa dikondisikan atau disterilkan,” bebernya.

Selain itu, Dedie menambahkan, rumah sakit juga harus ada ruang bertekanan negatif. Jangan sampai rumah sakit menjadi sumber penularan Covid-19 di Kota Bogor. Tidak hanya rumah sakit rujukan juga, tetapi rumah sakit swasta. (rizki mauludi/ing)