Sikap Kami: Bintang Emon vs Penegak Hukum

Sikap Kami: Bintang Emon vs Penegak Hukum

SIAPAKAH Bintang Emon? Kalaupun ada yang kenal, mungkin generasi milenial. Atau, penggemar komika. Tapi, sejak tengah pekan lalu, hampir bisa dipastikan jauh lebih banyak yang mengenalnya.

Namanya Gusti Muhammad Aburrahman Bintang Mahaputra. Baru 24 tahun. Punya akun Twitter @bintangemon. Jumat lalu, dia berkicau, ada pula video superpendeknya: Bikin buta/pake air keras/buron 2 tahun/penjaranya 1 tahun/lucu bener.

Followernya sudah banyak. Tapi, posisinya yang mengkritik penegak hukum dalam sidang kasus Novel Baswedan, membuatnya jadi pembicaraan. Trending topic. Kini, follower-nya di Twitter sudah 787 ribu.

Apa yang menarik? Tiba-tiba dia mendapat serangan. Kalangan pemilik akun Twitter menyebut penyerang Bintang Emon sebagai buzzer, pendengung. Ada yang lebih kasar, entah benar entah tidak, buzzerRp. Sebagian akun anonim. Namanya juga buzzer.

Tiba-tiba, dia menjadi pahlawan. Bukan hanya bagi millenial atau penggemar komika, oleh banyak orang. Semua membesarkan hatinya, membela, dan mencoba melindunginya. Terutama karena banyak yang melontarkan kicau-kicauan bernada ancaman. Ada yang menudingnya terlibat narkoba. Dia membalasnya dengan ciamik, melakukan tes narkoba. Beres.

Dia mungkin orang sederhana. Bisa jadi apolitik pula. Tapi, ada yang tak terusik dari dirinya: rasa keadilan. Tuntutan jaksa yang menuntut dua pelempar air keras yang nyaris membutakan Novel Baswedan, penyidik senior KPK, adalah merusak nurani keadilannya. Dia bersuara dengan khasnya: komika.

Ada yang khawatir soal keselamatannya. “Hati-hati jika ada tukang bakso lewat,” kata seorang pengikutnya menasihati.

Ada pula yang menanggapi dengan khas komika. Mengusulkan agar berganti profesi saja. Bintang Emon jadi penegak hukum, penegak hukum jadi komika. Sebab, tuntutan itu, bagi mereka, jauh lebih lucu dari komika. Soalnya, salah satu dalilnya, terdakwa tak sengaja dan sudah minta maaf.

Maka, sepatutnya bagi negara ini, terutama bagi lembaga penegak hukum, Bintang Emon adalah pelajaran. Jangan sekali-kali mengabaikan keadilan. Sebab, itulah yang mempersatukan republik ini. Keadilan tanpa syarat, bukan dengan syarat dan ketentuan berlaku.

Bintang Emon entah siapa –sekadar komika—tapi dia sudah menunjukkan kecintaan terhadap negeri ini. Tanpa perlu berteriak-teriak dan merasa lebih Pancasilais dari siapapun juga. Tanpa menganggap diri lebih NKRI dibanding siapapun. Dia Bintang Emon, anak muda berprofesi sebagai komika, yang tetap memiliki nurani keadilan. (*)