Ojol di Zona Kuning dan Hijau di Jabar Boleh Angkut Penumpang, Tapi...

Ojol di Zona Kuning dan Hijau di Jabar Boleh Angkut Penumpang, Tapi...
Ilustrasi/Antara Foto

INILAH, Bandung- Pengendara ojek online (ojol) pada wilayah kuning dan hijau di Jawa Barat bisa kembali mengangkut penumpang. Namun ada beberapa persyaratan yang mesti dipatuhi oleh pengemudi maupun penumpang. 

Kepala Dinas Perhubungan Jawa Barat (Dishub Jabar) Hery Antasari persyaratan tersebut mengacu kepada Surat Edaran Menteri Perhubungan No 11 Tahun 2020 tentang Pedoman dan Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Transportasi Darat pada Masa Adaptasi Kebiasaan Baru untuk Mencegah Penyebaran Corona Virus Disease 2019.

"Untuk hijau dan kuning diperkenankan mengangkut penumpang  dengan persyaratan ketat," ujar Hery di Gedung Sate, Kota Bandung, Rabu (17/6/2020).

Dia memaparkan, setiap ojol yang mengangkut orang maupun barang harus disiplin menggunakan disinfektan secara reguler. Terutama saat penumpang hendak naik dan turun kendaraan. 

Khusus pengemudi di wilayah hijau, secara reguler melaksanakan rapid test, dilengkapi masker, sarung tangan, hand sanitizer, jaket lengan panjang dan pembayaran non-tunai.

Hery menambahkan, ada penambahan persyaratan untuk penumpang di daerah kunin, di mana diwajibkan memakai helm sendiri. Adapun sebelum surat edaran keluar, ujar Hery, kebijakan masih memegang peraturan gubernur terkait Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), yang memberikan diskresi kebijakan ojol kepada masing-masing kepala daerah.

Hery mengatakan, pada fase pelonggaran pembatasan di bidang transportasi darat ini pemerintah pusat membagi empat zona level kewaspadaan, yakni merah, oranye, kuning dan hijau. Hal itu sedikit berbeda dengan Pemprov Jabar yang menerapkan lima level kewaspadaan yakni hitam, merah, kuning, hijau dan biru.

"Sedikit berbeda dengan Pemprov Jabar, tapi prisipnya sama mungkin ada beberapa penekanan yang beririsan tapi hanya masalah pembagian optimalisasi di daerahnya saja, sehingga ada perbedaan," katanya.

Lebih lanjut, menurut dia, terdapat pengecualian untuk wilaya Bodebek yang notabene sebagai penyangga DKI Jakarta. Kendati DKI Jakarta para pengemudi ojol sudah dapat mengangkut penumpang sejak seminggu lalu, namun di Bodebek masih tidak boleh. Hal itu berdasarkan aspirasi dari lima kepala daerah di Bodebek, karena pertimbangan teknis.

"Pihak aplikator sudah mampu melakukan segregasi geofencing pada kartografinya dengan membatasi (angkut penumpang) sampai ke tingkat kelurahan bahkan RW, jadi aplikasi secara otomatis tidak akan melayani atau menurunkan penumpang di wilayah tertentu yang dianggap beresiko tinggi seperti merah atau hitam. Itu sudah dikoordinasikan dengan DKI Jakarta, tapi Bodebek dan Jabar belum," papar Hery.

Hery mengaku, pihaknya telah meminta penyediaan aplikator ojol untuk mematikan fitur penumpang sampai ada kesepakatan dan kondisi yang sama antara Bodebek dengan DKI Jakarta.  

"Untuk wilayah Jabar yang lain mengikuti kententuan sesuai surat edaran no 11 ini, di wilayah kuning dan hijau," pungkasnya. (riantonurdiansyah)