Begini Strategi Smartfren Hadapi Era New Normal

Begini Strategi Smartfren Hadapi Era New Normal
Antara Foto

INILAH, Jakarta- Operator seluler Smartfren akan mengatur ulang kapasitas jaringan berdasarkan analisa lalu lintas data (traffic) untuk menyambut fase normal baru, di mana sebagian orang sudah kembali beraktivitas di luar rumah.

"Smartfren secara umum karena jaringan sudah ter-deploy sempurna, strateginya mengatur ulang bagaimana bisa mengatur trafik berjalan baik dan cukup kapasitas di semua tempat berdasarkan analisa kita crowded tidaknya," ujar VP Technology Relations Smartfren, Munir Syahda, TechTalk Smartfren secara virtual di Jakarta, Rabu.

Menurut Munir, jika saat masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) penggunaan internet terkonsentrasi pada area perumahan menyusul kebijakan bekerja dan belajar dari rumah, kini memasuki normal baru pengguna kembali mulai bergerak, dan Smartfren akan mengikuti hal itu.

Jika awalnya arus dialirkan kepada area perumahan, maka mengikuti normal baru aliran jaringan akan dikembalikan lagi ke kota-kota besar yang mulai kembali padat, meski menurut Munir tidak sepadat saat sebelum pandemi COVID-19.

"Artinya secara dinamis Smartfren akan mengubah ulang traffic route-nya, itu secara teknis. Tentu kita akan jalankan reevaluasi pengaturan traffic data kita," kata Munir.

"Tidak hanya di Jakarta, tapi jaringan Smartfren seluruh Indonesia kita pantau dan kita ikuti dinamika masyarakat yang bergerak," dia melanjutkan.

Lebih lanjut, soal peningkatan jaringan, Munir mengatakan setiap tahun Smartfren memang telah memiliki rencana untuk menambah kapasitas jaringan, termasuk BTS, namun hal itu tidak hanya khusus dibutuhkan saat fase normal baru.

Pemerataan jaringan 4G Smartfren, menurut Munir, bergantung pada kesiapan tidak hanya infrastruktur, namun juga harus mempertimbangkan biaya investasi.

Saat ini layanan Smartfren telah tersedia di 40 kota di Indonesia, yang berada di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan Lombok.

"Yang belum memang Indonesia Timur karena masih adanya kesulitan mendapatkan backbone dari kolega atau operator provider lain, jadi perhitungan perlu dilakukan secara berhati-hati," ujar Munir.